Oleh: Dinantari Susilo
Derap langkah
tiga bocah kampung di siang menjelang sore itu dipercepat ketika ketiganya
menatap satu titik yang sama. “Kejaaar !” Salah seorang bocah berbaju biru
memberi aba-aba. “Wooi.. Tunggu!” “Ayayayay! Punyaku!” Dengan semangat memburu,
seperti mereka mengabaikan matahari siang itu. Ketiganya berlari mengejar harta
karun di angkasa. Mata mereka awas, sesekali melihat ke atas tapi juga
memperhatikan jalanan desa yang tidak rata. Tanpa sadar mereka menuju area
sawah dan hampir sesekali menabrak para petani yang beranjak pulang, hebatnya mereka
tetap bisa menjaga keseimbangan. “Heh! Bocah gemblung!” Gerutu Dayat yang baru
saja meletakkan hasil menyabit rumputnya tapi langsung jatuh terduduk di dekat
sepeda. Dari balik caping ia melihat satu anak yang pembawa tongkat kayu kecil
menjulur lidah. “Wee!” “Woo dasar! Bukannya minta maaf malah ngeledek.” Belum
sampai dia berdiri, tampak sekelebat banyangan dari sisinya melesat menuju ke
arah bocah-bocah itu. “Ya Allah,.. Minaah! Baleek!!”
Suara Dayat hanya angin lalu bagi sosok itu. Beberapa tetangga yang melihat
kejadian itu tertawa kecil melihat Dayat tak berdaya dikerjai anak-anak kampung.
tiga bocah kampung di siang menjelang sore itu dipercepat ketika ketiganya
menatap satu titik yang sama. “Kejaaar !” Salah seorang bocah berbaju biru
memberi aba-aba. “Wooi.. Tunggu!” “Ayayayay! Punyaku!” Dengan semangat memburu,
seperti mereka mengabaikan matahari siang itu. Ketiganya berlari mengejar harta
karun di angkasa. Mata mereka awas, sesekali melihat ke atas tapi juga
memperhatikan jalanan desa yang tidak rata. Tanpa sadar mereka menuju area
sawah dan hampir sesekali menabrak para petani yang beranjak pulang, hebatnya mereka
tetap bisa menjaga keseimbangan. “Heh! Bocah gemblung!” Gerutu Dayat yang baru
saja meletakkan hasil menyabit rumputnya tapi langsung jatuh terduduk di dekat
sepeda. Dari balik caping ia melihat satu anak yang pembawa tongkat kayu kecil
menjulur lidah. “Wee!” “Woo dasar! Bukannya minta maaf malah ngeledek.” Belum
sampai dia berdiri, tampak sekelebat banyangan dari sisinya melesat menuju ke
arah bocah-bocah itu. “Ya Allah,.. Minaah! Baleek!!”
Suara Dayat hanya angin lalu bagi sosok itu. Beberapa tetangga yang melihat
kejadian itu tertawa kecil melihat Dayat tak berdaya dikerjai anak-anak kampung.
“Hahaha…
Yat, Dayat! Apes banget. Udah jatuh, ditinggal adikmu lagi.”
Yat, Dayat! Apes banget. Udah jatuh, ditinggal adikmu lagi.”
“Nggak
nolongin mas nya, malah ikut ngejar layang-layang. Hahaha…”
nolongin mas nya, malah ikut ngejar layang-layang. Hahaha…”
“Cah putri kok koyo ngunu, to Yat? Diopeni
adik e sing genah ! [1]” Sindir seorang
ibu-ibu yang membawa bakul berisi panen jagungnya. Mendengar semua itu Dayat
bangkit membersihkan diri sedikit lalu sedikit mendengus, ia menjawab
ucapan-ucapan tetangganya dengan santai. “Nggeh
pak, bu,.. mantun niki kula pondokne mawon si Minah.[2]
Siapa tahu bisa jadi menantunya pak kyai.” “Halah…
calon mantune yai kok, senengane nguber layangan.[3] Hahaha” Kelakar
salah seorang yang lain lalu mereka perlahan berlalu. Namun Dayat? Jangan kira
akan berdiam diri. Menjadi tameng untuk keluarganya menggantikan bapak bukan
perkara main-main. Ia merunut kiranya keempat anak itu berlari.
adik e sing genah ! [1]” Sindir seorang
ibu-ibu yang membawa bakul berisi panen jagungnya. Mendengar semua itu Dayat
bangkit membersihkan diri sedikit lalu sedikit mendengus, ia menjawab
ucapan-ucapan tetangganya dengan santai. “Nggeh
pak, bu,.. mantun niki kula pondokne mawon si Minah.[2]
Siapa tahu bisa jadi menantunya pak kyai.” “Halah…
calon mantune yai kok, senengane nguber layangan.[3] Hahaha” Kelakar
salah seorang yang lain lalu mereka perlahan berlalu. Namun Dayat? Jangan kira
akan berdiam diri. Menjadi tameng untuk keluarganya menggantikan bapak bukan
perkara main-main. Ia merunut kiranya keempat anak itu berlari.
“Pasti
bakal sampai area kebun salaknya Pak Sleman ini. Gawat!” Meski ada keyakinan,
Dayat berharap keempat bocah itu, terutama adiknya tidak sampai masuk kesana. Tidak
pernah menyenangkan berurusan dengan ketua RT wilayahnya. Meski Pak Sleman
selalu bermurah senyum pada Dayat dan keluarganya. Dayat tahu lelaki itu hanya
menginginkan ibunya. Pernah suatu kali, Dayat mencuri dengar percakapan ibu dan
Pak Sleman ketika lelaki paruh baya botak itu datang memegang tangan ibunya
yang gemetar, ibu dimohon jadi istri duda botak itu. Untung Dayat segera datang
dan berpura mencari pematik api. Ah, Pak Sleman, laki-laki tua yang mungkin
sudah gila. Tergila-gila bahkan. Pendiam dihadapan warga lain tapi lemah lembut
pada keluarganya. Masih ingat pula Dayat hendak dibelikannya sepeda motor,
namun ditolak.
bakal sampai area kebun salaknya Pak Sleman ini. Gawat!” Meski ada keyakinan,
Dayat berharap keempat bocah itu, terutama adiknya tidak sampai masuk kesana. Tidak
pernah menyenangkan berurusan dengan ketua RT wilayahnya. Meski Pak Sleman
selalu bermurah senyum pada Dayat dan keluarganya. Dayat tahu lelaki itu hanya
menginginkan ibunya. Pernah suatu kali, Dayat mencuri dengar percakapan ibu dan
Pak Sleman ketika lelaki paruh baya botak itu datang memegang tangan ibunya
yang gemetar, ibu dimohon jadi istri duda botak itu. Untung Dayat segera datang
dan berpura mencari pematik api. Ah, Pak Sleman, laki-laki tua yang mungkin
sudah gila. Tergila-gila bahkan. Pendiam dihadapan warga lain tapi lemah lembut
pada keluarganya. Masih ingat pula Dayat hendak dibelikannya sepeda motor,
namun ditolak.
***
Lain mata lain pikiran. Minah tampak
menggebu mengikuti harta karun yang melayang sore itu. Tak dipedulikan warna
jingga merayap. Setelah lama mengejar, layang-layang itu terbang merendah. “Sikat
Pri!”Si kaos biru memberi aba-aba menggapai benang atau badan layang-layang
pada anak laki-laki yang memegang tongkat kayu. Hup! Hup! Mencoba beberapa kali
namun ia gagal. “Aduuh dikit lagi.” Masih mencoba mengagapai-gapai, setiap
orang mencoba. “Hyap! Dapat!” Minah yang mencoba sekian kali meski harus beradu
badan dengan tiga bocah laki-laki itulah yang akhirnya mendapat harta karun.
“Yee! dapat. La la la, yeye,.. La la la, ye ye!” Selagi anak perempuan itu berjingkrak
ria ketiga anak laki-laki sebaya yang menjadi lawannya menatap kesal.
menggebu mengikuti harta karun yang melayang sore itu. Tak dipedulikan warna
jingga merayap. Setelah lama mengejar, layang-layang itu terbang merendah. “Sikat
Pri!”Si kaos biru memberi aba-aba menggapai benang atau badan layang-layang
pada anak laki-laki yang memegang tongkat kayu. Hup! Hup! Mencoba beberapa kali
namun ia gagal. “Aduuh dikit lagi.” Masih mencoba mengagapai-gapai, setiap
orang mencoba. “Hyap! Dapat!” Minah yang mencoba sekian kali meski harus beradu
badan dengan tiga bocah laki-laki itulah yang akhirnya mendapat harta karun.
“Yee! dapat. La la la, yeye,.. La la la, ye ye!” Selagi anak perempuan itu berjingkrak
ria ketiga anak laki-laki sebaya yang menjadi lawannya menatap kesal.
“Du-uh! Nggangu… ae cah wedok iki![4]”
“Iya!
Harusnya layang-layang itu punyaku tahu!” Si kaos biru itu mendorong Minah
Harusnya layang-layang itu punyaku tahu!” Si kaos biru itu mendorong Minah
“Lah,..
mana bisa? Siapa cepat, dia yang dapat!” mendorong Minah.
mana bisa? Siapa cepat, dia yang dapat!” mendorong Minah.
“Eh
Minah, jangan mentang-mentang badan paling tinggi ya ! Kamu itu cuma
perempuan.” Sergah si pembawa tongkat kayu. “Yee.. biarin. Pokoknya
layang-layang ini punyaku !” “Woo ngunu ya! Liat aja besok kamu, nggak ada lagi
jatah bulanan buat keluargamu dari bapakku.” “Hah? Maksudnya?” Si kaos biru
tampak bersungguh-sungguh dengan wajahnya.”Ayo pulang, temen-temen!” Sementara
satu dari ketiga anak laki-laki itu terdiam melihat wajah Minah yang ceria. Ia
tahu ia masih belia belum juga genap usianya enam belas tapi melihat Minah
tersenyum bangga dengan layang-layang itu, ia semakin percaya bahwa ada yang
mengatakan keluarga Minah adalah keluarga keturunan kembang desa. Lesung pipit
dan mata keciknya berbeda. “Bandi, ayo
mulih! Nggak usah bolo karo genter mlaku[5].” Kata si kaos
biru dari jauh, lalu laki-laki sebaya Minah yang bernama Bandi itu membuyarkan
lamunan dan mengikuti dua kawannya.
Minah, jangan mentang-mentang badan paling tinggi ya ! Kamu itu cuma
perempuan.” Sergah si pembawa tongkat kayu. “Yee.. biarin. Pokoknya
layang-layang ini punyaku !” “Woo ngunu ya! Liat aja besok kamu, nggak ada lagi
jatah bulanan buat keluargamu dari bapakku.” “Hah? Maksudnya?” Si kaos biru
tampak bersungguh-sungguh dengan wajahnya.”Ayo pulang, temen-temen!” Sementara
satu dari ketiga anak laki-laki itu terdiam melihat wajah Minah yang ceria. Ia
tahu ia masih belia belum juga genap usianya enam belas tapi melihat Minah
tersenyum bangga dengan layang-layang itu, ia semakin percaya bahwa ada yang
mengatakan keluarga Minah adalah keluarga keturunan kembang desa. Lesung pipit
dan mata keciknya berbeda. “Bandi, ayo
mulih! Nggak usah bolo karo genter mlaku[5].” Kata si kaos
biru dari jauh, lalu laki-laki sebaya Minah yang bernama Bandi itu membuyarkan
lamunan dan mengikuti dua kawannya.
Menyadari tatapan Bandi, sebenarnya
Minah ingin bertanya atau sekedar terima kasih karena ia tidak ikut mengoloknya
seperti si kaos biru dan si pembawa tongkat kayu. Namun suara menggelegar
kakaknya menyadarkan Minah akan sesuatu.
Minah ingin bertanya atau sekedar terima kasih karena ia tidak ikut mengoloknya
seperti si kaos biru dan si pembawa tongkat kayu. Namun suara menggelegar
kakaknya menyadarkan Minah akan sesuatu.
“Minaah!”
Tak ayal sebuah jeweran hinggap di kuping kirinya.
Tak ayal sebuah jeweran hinggap di kuping kirinya.
“A-a-a-a
sakit! Sakit! Sakit!”
sakit! Sakit! Sakit!”
“Hmm..
biar aja! Siapa suruh kamu ngejar layangan?”
biar aja! Siapa suruh kamu ngejar layangan?”
“Aduuh..”
“Jam
segini tu ya, kamu harusnya pulang, bantu Ibuk masak, tahu?! Males aku kalau
caramu kayak gini, Nah. Ojo sekarepmu
dewe. Tak pondok no lho awakmu![6]”
segini tu ya, kamu harusnya pulang, bantu Ibuk masak, tahu?! Males aku kalau
caramu kayak gini, Nah. Ojo sekarepmu
dewe. Tak pondok no lho awakmu![6]”
“Emooh mas![7]” Minah mulai
merajuk. Entah mengapa ancaman itu selalu efektif memberi efek jera pada Minah.
Ia paling takut dengan pesantren yang konon aturannya ketat sekali dan tidak
punya waktu bermain. Gadis mata kecik itu mendapat gambaran pesantren lewat
Fatim, kawan SD nya di kampung sebelah yang lanjut SMP pesantren. “Kau tahu,
Minah. Disana itu kalau ketahuan dekat sedikit saja dengan lawan jenis,
diaraknya kamu keliling pesantren sambil berkerudung paling beda warnanya.”
“Kamu pernah, Tim?” Yang ditanyai matanya mencari titik di atas kepalanya.
“Eh,.. itu sih.. ya.. enggaklah. Kan aku anak baik.” “Hii,. Gitu ya?” Minah
merinding. Membayangkan bagaimana kabarnya jika ia ketahuan suka mengejar
layangan dengan banyak anak laki-laki. Sejauh ia memandang Pesantren masih
eksklusif, rigid tak menyenangkan. Minah lupa menanyakan pada kawannya itu apa
yang menarik dari pesantren yang membuat Fatim betah.
merajuk. Entah mengapa ancaman itu selalu efektif memberi efek jera pada Minah.
Ia paling takut dengan pesantren yang konon aturannya ketat sekali dan tidak
punya waktu bermain. Gadis mata kecik itu mendapat gambaran pesantren lewat
Fatim, kawan SD nya di kampung sebelah yang lanjut SMP pesantren. “Kau tahu,
Minah. Disana itu kalau ketahuan dekat sedikit saja dengan lawan jenis,
diaraknya kamu keliling pesantren sambil berkerudung paling beda warnanya.”
“Kamu pernah, Tim?” Yang ditanyai matanya mencari titik di atas kepalanya.
“Eh,.. itu sih.. ya.. enggaklah. Kan aku anak baik.” “Hii,. Gitu ya?” Minah
merinding. Membayangkan bagaimana kabarnya jika ia ketahuan suka mengejar
layangan dengan banyak anak laki-laki. Sejauh ia memandang Pesantren masih
eksklusif, rigid tak menyenangkan. Minah lupa menanyakan pada kawannya itu apa
yang menarik dari pesantren yang membuat Fatim betah.
“Ojo dibaleni![8]” Kata Dayat sekali
lagi sambil menyentil telinga Minah.
lagi sambil menyentil telinga Minah.
“Aw,..
Nggeh, mas.[9]” Suaranya
merendah. Mereka masih berjalan beriringan ditemani kemilau senja yang makin
memerah. Bisu menghiasi jalan tiba-tiba buyar dengan pertanyaan Minah. “Mas,
memangnya keluarganya Pak Sleman ngasih apa sih buat kita setiap bulan?”
Nggeh, mas.[9]” Suaranya
merendah. Mereka masih berjalan beriringan ditemani kemilau senja yang makin
memerah. Bisu menghiasi jalan tiba-tiba buyar dengan pertanyaan Minah. “Mas,
memangnya keluarganya Pak Sleman ngasih apa sih buat kita setiap bulan?”
DEG! Mas Dayat tersirap. Apakah
Minah mengetahui sesuatu yang sebenarnya tidak boleh diketahui? “Maksud si
gendut, anaknya Pak Sleman tadi apa ya mas? Bilang jangan harap dapet jatah
bulanan lagi ?” Kakak Minah terdiam lalu begitu terlihat atap rumah mereka Dayat
terseyum. “Ayo balapan, siapa yang sampai rumah duluan, bakal bebas cuci piring
tiga hari.” Dayat mendahului start. “Lhah lhah.. Mas Dayat curaaang!” Larinya
diikuti Minah. Meski sesampai di halaman Minah tetap juara karena Dayat masih
harus memarkir sepeda.
Minah mengetahui sesuatu yang sebenarnya tidak boleh diketahui? “Maksud si
gendut, anaknya Pak Sleman tadi apa ya mas? Bilang jangan harap dapet jatah
bulanan lagi ?” Kakak Minah terdiam lalu begitu terlihat atap rumah mereka Dayat
terseyum. “Ayo balapan, siapa yang sampai rumah duluan, bakal bebas cuci piring
tiga hari.” Dayat mendahului start. “Lhah lhah.. Mas Dayat curaaang!” Larinya
diikuti Minah. Meski sesampai di halaman Minah tetap juara karena Dayat masih
harus memarkir sepeda.
“Uwaaa…” Minah terkesima. Di meja
makan tersaji makanan yang agak banyak dari biasa. Ditambah ada pula aneka
buah. “Ada orang yang hajatan ya buk?” “Iya.” Jawab ibu singkat di balik bilik
ayahnya. Minah yang merasa ini mukjizat langsung duduk di depan hamparan aroma
sedap dan mengambil buah dari satu keranjang parcel. Dayat yang masuk menyusul
Minah ikut terkejut, namun ia tidak banyak berkata. Ia langsung menghampiri
ibunya yang menyuapi bapak di kamar. “Buk..” Kini nadanya serius. “Dari pak
Sleman?” Ibu mengangguk pelan. Dayat menghela nafas. Ada saatnya ia benar-benar
tidak suka menjadi orang miskin yang tidak bisa menolak segala kebaikan orang
lain. Terlebih Pak Sleman. Sekuat apapun senyum ibu mengembang, berusaha
menutupi kecewa atas kemalangan nasib, menutup telinga dari cibiran banyak orang
tentang keluarganya, sejauh Dayat memandang tegar ibunya, ia etaplah sosok
wanita yang bisa saja luluh atas kebaikan laki-laki. Namun Pak Sleman harusnya
pengecualian, dia harusnya ditolak mentah-mentah setiap kali datang. Namun
Dayat tetap mengerti, dipandang bagaimanapun ibu tidak memiliki pilihan. Bapak
butuh asupan dan obat agar bisa tetap bersama mereka dan tak ada aturan lain.
Dayat dan keluarganya harus rela menerima hutang yang ditawarkan dengan syarat.
“Kenapa hari ini berbeda bu?” “Beliau
nembung adikmu[10],
buat anak sulungnya.”
makan tersaji makanan yang agak banyak dari biasa. Ditambah ada pula aneka
buah. “Ada orang yang hajatan ya buk?” “Iya.” Jawab ibu singkat di balik bilik
ayahnya. Minah yang merasa ini mukjizat langsung duduk di depan hamparan aroma
sedap dan mengambil buah dari satu keranjang parcel. Dayat yang masuk menyusul
Minah ikut terkejut, namun ia tidak banyak berkata. Ia langsung menghampiri
ibunya yang menyuapi bapak di kamar. “Buk..” Kini nadanya serius. “Dari pak
Sleman?” Ibu mengangguk pelan. Dayat menghela nafas. Ada saatnya ia benar-benar
tidak suka menjadi orang miskin yang tidak bisa menolak segala kebaikan orang
lain. Terlebih Pak Sleman. Sekuat apapun senyum ibu mengembang, berusaha
menutupi kecewa atas kemalangan nasib, menutup telinga dari cibiran banyak orang
tentang keluarganya, sejauh Dayat memandang tegar ibunya, ia etaplah sosok
wanita yang bisa saja luluh atas kebaikan laki-laki. Namun Pak Sleman harusnya
pengecualian, dia harusnya ditolak mentah-mentah setiap kali datang. Namun
Dayat tetap mengerti, dipandang bagaimanapun ibu tidak memiliki pilihan. Bapak
butuh asupan dan obat agar bisa tetap bersama mereka dan tak ada aturan lain.
Dayat dan keluarganya harus rela menerima hutang yang ditawarkan dengan syarat.
“Kenapa hari ini berbeda bu?” “Beliau
nembung adikmu[10],
buat anak sulungnya.”
Pondok Pesantren Darun Nun Malang








