SCIENTIA SQUARE PARK
by; Zid-li Auliana L

Liburan akhir semester telah tiba, covid sudah mulai reda, bahkan pergantian jadwal daring dan luring sudah tiada, semua masuk bertatap muka. Kami sekelas bersepakat liburan bersama agar saling mengenal dan mempererat hubungan persaudaraan. Kami berunding mengurutkan lokasi dan memvotting, hasil terbanyak diraih lokasi Scientia Square Park di Tangerang. Hari dan jam kami sepakati pada hari Selasa jam sembilan pagi.
Sehari sebelumnya, anak-anak yang berada di luar Tangerang harus sudah berada di Tangerang, maka dari itu mereka menginap di rumah teman yang rumahnya berada di Tangerang. Kebetulan orang tuaku sekarang ada bagian kerja di Tangerang dan mengontrak rumah di sini sehingga aku memiliki tempat tinggal di sini meskipun aku dari luar Tangerang. Aku menawarkan teman-temanku untuk menginap di rumahku sejumlah tiga orang.
Ada dua anak non asrama yang menawarkan rumahnya sebagai tempat untuk menginap, yaitu Tasya dan Rahma. Tasya menawarkan jumlahnya sama denganku yaitu tiga orang, sedangkan Rahma hanya satu orang. Tidak semua anak yang berada di luar Tangerang ikut berlibur bersama, mungkin karena jarak yang sangat jauh atau kendala lain.
Senja, Cici, dan Zahra mengechat, meminta izin kepadaku untuk menginap di rumahku. Aku mempersilahkannya dengan senang hati. Tiba larut malam mereka tak kunjung datang hingga ibuku mempertanyakan keadaan mereka. “Teman-temanmu jadi nginap nggak? Kalau jadi bilangin mereka jangan malam-malam datangnya”.
“Iya bu”, jawabku disusul dengan menelpon salah satu dari mereka, Cici.
Tiiittt…
“Assalamualaikum, halo Ci, udah sampai mana?”, sapaku di awal pembicaraan.
“Nggak tau ini sudah sampai mana?”, tanya Cici sekaligus mengarahkan kamera handphonenya ke jalan.
“Loh, Ci, kamu kebablasan, nggak sampai situ rumahku”, jawabku kaget. Rupanya mereka lama karena bingung mencari alamat rumahku.
“Oh iya? Terus ke mana ini?”, tanya Cici panik.
“Balik lagi, muter”, suruhku.
“Balik lagi, muter pak”, ucap Cici kepada pak sopir yang terdengar di speaker hanphoneku. “Terus ke mana nih, Lia?”.
“Lurus aja terus sampai ketemu warung warna biru, disitu ada gang masuk aja, nanti kalau sudah sampai telepon lagi aja”.
Setelah lama menunggu mereka dalam perjalanan, Cici memberikan foto gang tersebut lewat chat, “gang yang ini?”.
“Iya, masuk aja ke gang itu”, jawabku di chat.
Di depan pagar rumah, aku menunggu, tak lama berselang datang Senja, Cici, dan Zahra bersama. Aku menyambut mereka dengan ramah dan senang, hingga tak sadar kami telah membuat suara ramai dan ibuku keluar dari rumah.
“Loh sudah datang ya? Malam sekali”, sapa ibu sambil tersenyum.
“Hehe, iya tante, tadi tersesat”, tawa mereka bertiga kecil seraya bersalaman kepada ibu.
“Ya ampun kasihannya, ya sudah segera masuk kamar, Lia antar teman-temannya ke kamar ya”, suruh ibu.
Aku segera beranjak menutup pagar dan mengantarkan Senja, Cici, dan Zahra ke dalam kamar. Kami segera beristirahat untuk mempersiapkan berlibur esok hari.
#
Kami bangun saat azan subuh dan segera melaksanakan salat. Setelah itu kami mengantre mandi satu persatu dengan keadaan kamar mandi hanya satu, maklum rumah kontrakan. Mengontrak yang kecil-kecil saja hanya untuk sementara yang penting bisa ditempati sekeluarga. Kami makan bersama di ruang tamu dengan makanan yang sudah disiapkan ibu.
“Segera sarapan ya”, ucap ibu.
“Iya bu”, jawabku.
Kami sarapan, setelah selesai kami pun membereskannya dan segera memesan grab car.
Aku, Senja, Cici, dan Zahra adalah rombongan yang paling rajin. Kami datang ke lokasi paling awal di antara teman-teman lain. Kami saling chat di grup liburan.
“Guys… siapa yang udah sampai? Acung tangan”, tanya Anisa di grup.
“Aku, Cici, Lia, sama Zahra udah di sini”, jawab Senja mewakili kami berempat ditambah dengan foto selfie kami yang sudah berada di lokasi tujuan.
“Wow! Rajin sekali masih pagi”, respons Anisa.
“Haha iya dong, ayo cepat berangkat. Masih ngapain di sana?”. Senja menyuruh sekaligus bertanya.
“Ini loh, udah mau berangkat”, jawab Anisa sambil mengirimkan sebuah foto beserta teman-temannya yang sedang menginap di rumah Tasya.
Senja menjawab dengan stiker jempol.
Sekitar lima belas menit berlalu akhirnya Tasya, Anisa, Andhara, Via, dan Kosya datang juga disusul dengan Arilla dan Bryna.
“Loh, Bryna? Kamu nginap di rumah siapa?”, tanyaku kepada Bryna penasaran, karena Rahma hanya menawarkan satu orang menginap di rumahnya sedangkan rumah Tasya sudah penuh.
“Aku di nginap di rumah Rahma”, jawab Bryna.
“Oh, iya, ngomong-ngomong mana Rahma?”, tanyaku yang baru menyadari tidak ada Rahma.
“Rahma nggak ikut, katanya dia lagi nggak ada di rumah jadi dia mempersilahkan kamarnya untuk ditempati soalnya kosong”, jelas Bryna.
“Terus kamu tinggal masuk rumahnya gitu?”
“Ya enggak lah, ijin ibunya dulu, kan ada ibunya, gimana sih”, jawab Bryna kesal.
“Hehe, maaf”, ucapku sambil garuk-garuk kepala.
“Hei, udah-udah, masih pagi loh baru ketemu udah gini”, lerai Anisa.
Kami berjalan menuju loket dan membeli tiket sejumlah sebelas buah, sesuai dengan jumlah kami. Kami masuk ke pintu masuk dan gelang tiket dipasangkan ke pergelangan lengan kami satu persatu oleh petugas.
Kami menaiki berbagai macam wahana mulai dari yang biasa saja hingga ekstrem membuat kepala berputar pusing hingga merinding. Kami menaiki ayunan yang dibawa tinggi ke atas kemudian diputar kencang selama lima menit. Lanjut menaiki roller coaster, roller coaster di sini banyak macamnya, mulai dari yang datar-datar saja hingga diputar 360 derajat. Naik bom bom car, agar cepat dan tidak mengulur waktu naiknya berdua, seperti biasa aku bersama Senja. Bergerombol memasuki rumah hantu, saling berpegangan satu sama lain, akhirnya keluar juga dari kegelapan dan suara bising yang menakutkan. Terakhir aku menaiki wahana 360 derajat, diputar-putar, rotasi dan revolusi dijalankan pada wahana ini. Setelah itu aku hanya melihat teman-temanku menaiki wahana, aku merasa pusing, jalan saja rasanya hampir jatuh. Beberapa temanku juga sama berhenti melanjutkan menaiki wahana dan hanya melihat yang masih kuat menaiki wahana.
Tak terasa hari semakin sore, sekarang menunjukkan pukul lima, kami waktunya pulang. Sebelum pulang kami bersepakat untuk pergi ke rumah Tasya untuk makan-makan. Di waktu yang bersamaan ibuku mengechatku tiga pesan sekaligus.
“Pulang jam berapa?”.
“Jangan sampai magrib ya”.
“Nggak usah ke mana-mana, langsung pulang”.
Aku memberitahu teman-temanku yang menginap di rumahku untuk langsung pulang karena disuruh ibu sembari meneruskan chat ibuku ke grup teman yang menginap di rumahku. Sebenarnya aku juga tidak ingin pulang, aku masih ingin bermain begitu juga temanku, namanya juga anak remaja. Namun ya sudahlah, nurut saja kepada ibu.
Aku memesan grab. Sembari menunggu mobil datang, aku membeli jajanan sambil menoleh kepada mereka yang berangkat menuju rumah Tasya untuk makan-makan di sana dengan makanan yang sudah disediakan. Mobil pun datang, aku, Senja, Cici, dan Zahra menaiki mobil.
Sampai di rumah sudah azan magrib, kami segera makan dengan nasi kotak yang sudah dipesankan ibu. Setelah itu kami salat magrib dan menunggu azan isya sambil bergurau, mengupload status, mengedit foto, dan lain sebagainya. Hingga tiba azan isya kami segera melaksanakan salat.
“Lia, tempat oleh-oleh di sini di mana ya?”, tanya Cici padaku.
“Nggak tau aku, coba lihat google maps, aku cuma ngontrak di sini”.
Kemudian Cici membuka google maps dan segera bergegas ke lokasi.
“Loh, kamu nggak ikut?”, tanya Cici padaku.
“Hehe enggak deh, di sini aja”, jawabku pasrah.
“Beneran nggak papa sendiri?”, tanya Cici memastikan.
“Iya nggak papa”, jawabku sekali lagi. Sebenarnya dari tadi aku ingin ikut, mulai dari ke rumah Tasya, sampai sekarang membeli oleh-oleh aku juga ingin ikut. Namun aku takut ijin ke orang tua, selama ini aku jarang sekali di izinkan keluar, atau biasa disebut strict parent. Oleh karena itu untuk kesekian kalinya aku tidak pernah ijin lagi, karena aku tahu jawabannya pasti “tidak boleh”.
Merekapun langsung memesan grab dan menuju lokasi.






