
Oleh: Zahriyatun Nafiah
Namaku Rara, seorang anak gadis kecil yang lahir dari keluarga sederhana di pinggiran desa. Ayahku bekerja serabutan, kadang jadi buruh bangunan, kadang petani, kadang peternak, bahkan hingga menjadi buruh pembersih kotoran ayam. Sementara Ibu hanya seorang ibu rumah tangga yang setiap hari riweh dengan pekerjaan rumah tangga dengan 4 anak kecilnya.
Hidup kami pas-pasan. Uang yang Ayah bawa pulang setiap hari hanya cukup untuk membeli beras dan lauk sederhana. Tidak pernah ada yang lebih. Tapi aku tahu, Ayah dan Ibu selalu berusaha agar aku tidak kelaparan, meski mereka sendiri sering menahan lapar.
Setiap tahun, menjelang hari ulang tahunku, ada rasa hangat yang tiba-tiba tumbuh di dadaku, harap kecil yang selalu aku simpan rapat-rapat. Aku tak pernah berharap pesta besar atau hadiah mahal. Aku hanya ingin sepotong kue kecil, dengan lilin yang menyala di atasnya.
Namun, setiap tahun, hari itu selalu berlalu seperti hari-hari biasa. Tak ada yang mengucapkan selamat, tak ada senyum, apalagi kue. Aku hanya diam, menatap ke luar jendela sambil membayangkan bagaimana rasanya meniup lilin sambil berdoa seperti anak-anak lain.
Sampai suatu sore, ketika umurku genap sembilan tahun, ada yang berbeda. Tetangga kami, Bu Ratna, yang terkenal kaya raya, karena ia adalah seorang pejabat, memanggilku dari depan rumahnya. Aku mendekat dengan ragu. Di tangannya, ia membawa sebungkus kue tart yang tampak berantakan, krimnya sudah luntur dan hiasannya miring.
“Rara, ini buat kamu. Tadi ulang tahun anak Tante, tapi kuenya sisa. Sayang kalau dibuang, ya…” katanya sambil tersenyum tipis.
Hatiku bergetar. Mataku langsung berbinar. Aku menatap kue itu seperti benda paling indah di dunia.
“Terima kasih, Tante,” jawabku lirih, menahan rasa bahagia yang tiba-tiba meluap.
Aku berlari pulang sambil membawa kotak itu erat-erat, seolah takut ia menghilang. Ini… ini mungkin hari ulang tahunku yang paling istimewa, pikirku.
Namun begitu sampai di rumah, Ayah menatapku dengan tajam.
“Itu apa, Ra?” suaranya berat.
“Ini, Yah… kue ulang tahun dari Bu Ratna,” jawabku polos, senyumku masih menggantung.
Sekejap wajah Ayah mengeras. Ia mengambil kotak itu dan membukanya. Kue itu sudah miring, sebagian hancur.
“Jadi mereka kasih kamu kue bekas anaknya?” nada marah terdengar jelas. “Mentang-mentang kita miskin, dikasih sisa makanan seperti ini? Mereka pikir kita hewan?”
Aku terdiam. Air mataku menetes tanpa suara. Aku tak mengerti mengapa Ayah marah. Bukankah ini hari ulang tahunku? Bukankah aku seharusnya bahagia? Ayah membuang kue itu ke tong sampah. Hatiku ikut jatuh bersamanya.
“Naak, suatu saat nanti ayah janji akan membelikanmu kue yang bagus dan enak. Meskipun kita ini orang yang tidak punya tapi, jangan anggap diri kita ini rendah dan hina sampai-sampai menrima pemberian orang lain yang pemberiannya sudah tidak layak. Kita masih punya hati, kita masih punya perasaan, dan kita bukan hewan!”
“Iya ayah…”
Jawabku lirih, karena aku tahu pasti ayah akan lupa juga dengan janji itu dan aku pun tidak ingin membebani ayah dengan menagih sepotong kue yang ayah jajikan itu, karena aku sadar makanan pokok dan keluarga yang sehat itu lebih penting dari pada sepotong kue yang aku impikan itu.
Sejak hari itu, aku tak pernah lagi berharap. Tapi, diam-diam, setiap kali melihat toko kue di jalan pulang sekolah, aku masih berdoa dalam hati, semoga suatu hari nanti, aku bisa mencicipi sepotong kue ulang tahun yang datang bukan karena kasihan, bukan karena sisa, tapi karena cinta dari orang-orang yang kucintai.
Dan sampai hari ini, harapan kecil itu masih tinggal di hatiku seperti lilin yang tak pernah sempat aku nyalakan.
Pondok Pesantren Darun Nun







