Sepuluh Hari Menjemput Ibu

(Catatan Rindu dari Anak Pesantren yang Lama tak Berlabuh)

Oleh: Muhammad Khoirul Umam

 

Hari itu datang tanpa tanda.

Aku masih di pondok pesantren, larut dalam rutinitas menuntut ilmu, ketika kabar itu datang bagai petir di siang bolong Ibu jatuh sakit dan tak sadarkan diri.

Detik itu juga, dunia seakan berhenti berputar. Napasku tercekat, dadaku sesak.

Aku ingin segera pulang, tapi suara hati menahan,

 “Ilmu yang sedang kau tuntut, Nak, itulah yang Ibu perjuangkan. Bersabarlah, sebentar lagi kau bisa menemuinya.”

Beberapa jam kemudian, izin itu akhirnya datang.

Dengan langkah tergesa dan mata yang panas menahan tangis, aku pulang.

Di rumah sakit, kulihat sosok yang paling kucinta terbaring lemah, pucat, namun wajahnya tetap damai.

Tanganku menggenggam tangannya yang dingin, dan aku berbisik lirih,

 “Bu… Umam sampun mantuk.”

Namun Ibu hanya menatapku dalam diam. Tanpa suara, tanpa kata. Hanya pandangan lembut yang menembus hati, seolah beliau berbicara tanpa perlu mengucapkan apa pun.

Aku mencium tangannya yang mulai kaku, menahan air mata yang memanas di pelupuk.

Dalam hati, aku berdoa,

 “Yā Allāh, dengan segala kehendak-Mu, kami serahkan segala urusan kami.

Jika Engkau sembuhkan Ibu, limpahkanlah rahmat dan keberkahan-Mu, agar kami selalu bersyukur atas nikmat-Mu.

Namun jika Engkau memanggilnya pulang, jadikanlah kami orang-orang yang ikhlas dan ridha,

karena kami sadar, Ibu adalah milik-Mu, dan hanya kepada-Mu lah kami kembali.

Tempatkanlah beliau di surga-Mu yang mulia, dan jadikan setiap kenangan kami padanya sebagai amal jariyah yang Engkau terima.”

Hari-Hari di Sisi Ibu

Hari-hari berikutnya berjalan lambat, tapi terasa berat.

Dari hari kedua hingga kelima, aku tak beranjak dari sisinya.

Setiap pagi aku membersihkan wajahnya, setiap malam kuselipkan doa di antara helaan napasnya yang tersengal.

Meski matanya tertutup rapat, aku tahu Ibu masih mendengarkanku.

Aku ceritakan tentang pondok, tentang cita-citaku, tentang mimpi menjadi anak yang kelak membuatnya bangga.

Dan entah mengapa, setiap kata yang terucap terasa mengalir langsung ke hatinya.

Sebelum sakitnya semakin parah, Ibu pernah berpesan kepadaku, pesan yang sampai kini masih menggema dalam ingatan:

 “Ojo mung kaya ibumu iki, mung lulus SD, ora pinter opo-opo.

Sing penting, anak-anakku kudu luwih pinter, iso sukses nang donyo lan akhirat.”

Kalimat sederhana itu menembus dada seperti anak panah doa.

Di balik tutur lembut itu tersimpan cinta dan harapan yang tak pernah padam.

Aku sering berpikir, sehebat apa pun diriku, setinggi apa pun gelar pendidikan yang kelak kusandang, tak akan pernah mampu menandingi kebesaran Ibu dan Ayah dua manusia luar biasa yang membesarkan kami bukan dengan harta, tapi dengan ridha, doa, dan kesabaran yang tiada tepi.

Sering pula aku membayangkan, andaikata kelak aku bisa mengangkat derajat mereka, membalas setiap tetes keringat dan air mata yang tercurah untuk kami.

Namun penyesalan terbesar yang mengganjal di hati hingga kini adalah: aku belum sempat membahagiakan Ibu dengan hasil jerih payahku sendiri.

Ibu pernah berkata lembut kepada kami,

 “Masane ibuk mbek ayah mesti bakal bedo karo masane sampean mene. Mene nek sampean wes sukses, ojo lali seng rukun mbek dolor-dolor wedok’e. Ojo sampek tukaran, kudu saling mengasihi.”

Dan kepada kedua kakakku, beliau juga berpesan dengan mata yang berkaca-kaca,

 “Nduk, mene nek pean nduwe rejeki, nduwe penghasilan dewe, ojo lali karo adek’e. Ditumbasno opo ta, opo eling karo dulure. Mbesok nek kesusahan, sopo ngerti adek’e sing iso mbantu pean.”

Dulu, kata-kata itu hanya lewat seperti angin. Tapi kini, setiap suku katanya terpatri dalam hati.

Benar kata Ibu- kebahagiaan sejati bukan tentang siapa yang paling sukses, melainkan tentang siapa yang paling mampu menjaga, mengasihi, dan saling menguatkan.

Malam Itu- Ramadhan Malam Ketiga

Langit begitu sunyi. Udara seakan berhenti berhembus.

Dalam cahaya redup bulan suci, Ibu berpulang – kepundut dhumateng asmane Gusti Allah.

Malam yang seharusnya penuh doa berubah menjadi malam penuh air mata.

Kini, setiap kali kudengar azan Maghrib di bulan Ramadhan, suara itu seperti memanggil kenangan yang tak pernah pudar.

Ibu yang dulu selalu membangunkan kami untuk sahur, dengan mata sayu namun senyum yang hangat, kini hanya tinggal dalam ingatan.

Masih terngiang suaranya:

 “Conk, tangi… ayo sahur, wis arep imsak, maem disik ben ora luwih posone.”

Uang Pertama, Doa Terakhir

Pada liburan Ramadhan, tepat malam ke-22 setelah Ibu berpulang, aku mencoba mencari kesibukan untuk mengusir sepi dan duka yang menyesak.

Aku memutuskan mengambil magang di sebuah rumah makan sederhana, bukan semata ingin bekerja, tapi untuk menenangkan hati yang masih berduka.

Setiap hari aku bekerja dari pagi hingga malam, mencoba mengalihkan pikiran dari bayang-bayang kehilangan.

Namun di setiap jeda waktu, kenangan tentang Ibu selalu datang lembut tapi menyesakkan.

Hingga akhirnya, saat menerima gaji pertamaku, hatiku bergetar hebat.

Meski jumlahnya tak besar, bagiku itu adalah hasil jerih payah yang istimewa. Dalam hati aku berbisik,

 “Bu… niki arto saking kerja pertama Umam.”

Aku ingin sekali pulang dan menaruh uang itu di telapak tangannya mencium tangan yang dulu selalu mendoakanku setiap malam. Namun kenyataannya, Ibu sudah tak lagi di sana.

Kini, selembar uang itu tak sekadar hasil kerja ia menjadi simbol cinta dan doa yang Ibu tanamkan sepanjang hidupnya.

Rasanya hampa… tangan ini gemetar karena tak sempat mempersembahkannya langsung kepada beliau.

Doa yang Tak Pernah Padam

Bu… meski jasadmu telah tiada, Umam tahu, cinta dan doamu tak pernah pergi.

Setiap langkah yang kuambil hari ini adalah jejak dari kasih sayangmu.

Kini aku masih menempuh pendidikan di UIN Malang, berusaha sekuat tenaga agar kelak bisa menjadi kebanggaanmu, Bu.

Aku berjanji akan menjaga Ayah sebaik mungkin.

Karena selain kedua kakak perempuanku, hanya Ayahlah sosok paling berharga yang masih kupunya, sosok istimewa yang kini menjadi alasan terbesarku untuk terus bertahan.

Tenanglah, Bu… di sisi Gusti Allah.

Semoga Ramadhan yang dulu menjadi saksi kepergianmu juga menjadi bukti bahwa Ibu berpulang dalam kemuliaan.

Doa ini tak akan pernah berhenti, sampai Allah mempertemukan kita kembali di tempat penuh cahaya tanpa tangis, tanpa perpisahan.

Kini, setiap kali rindu datang, aku hanya perlu menutup mata dan berdoa:

 “Ya Allah, tempatkanlah Ibu di sisi-Mu yang paling indah.

Jadikan setiap langkahku, setiap ilmu, dan setiap amal kebaikan sebagai jalan untuk meneruskan cinta yang telah Ibu titipkan.”

Dan di antara hiruk pikuk kesibukan nanti, ketika waktu mulai menelan kenangan,

aku menitipkan kisah ini Sepuluh Hari Menjemput Ibu di laman Pondok Pesantren Darun Nun.

Agar suatu hari, saat aku sibuk atau mulai lupa, aku bisa membukanya kembali,

menemui rindu yang lama, dan mengingat kembali wajah Ibu yang tersenyum dalam ingatan.

 “Karena cinta seorang Ibu tidak berakhir pada kematian—

ia hanya berubah menjadi doa yang abadi.”

 

Pondok Pesantren Darun Nun

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp