By: Dinda Novita Sari
Pagi itu di antar gerbong-gerbong kereta yang tengah
berjalan. Aku melihatmu duduk di samping jendela dengan mata mengarah keluar.
Seolah tengah mengagumi hamparan gunung dan sungai yang tuhan ciptakan. Begitu
indah memang ciptaan tuhan, bukan…bukan, yang ku maksud bukan hannya
pemandangan itu namun juga dirimu. Sungguh nikmat tuhan mana lagi yang bisa ku
dustakan.
Kau duduk disana, di kursi sebelah kiri bersebelahan dengan kursi yang tengah ku duduki. Kupandangi dirimu secara diam-diam, membuatku bertanya-tanya “siapakah dirimu wahai laki-laki berparas rupawan”. Dengan memakai sarung, baju kokoh, dan kopyah yang menghiasi kepalanya. membuatnya terlihat berbeda dengan laki-laki lainnya. Ingin rasanya kumendekatinya dan bertanya “hai siapa namau?” namun tidak itu hanya akan membuatku terlihat bodoh di hadapannya.
Untuk sekian kalinya kupandangi dirinya, namun kali ini sepertinya aku ketahuan karena tiba-tiba ia menoleh menatapku. Seolah memergokiku tengah mengintipnya diam-diam. Tak lama hannya beberapa detik, namun efeknya membuatku kaku tak berkedip. Mungkin ini berlebihan namun itulah kenyataanya.
Matanya begitu tegas dengan iris berwarna coklat terang, hidungnya begitu mancung bak orang timur tengah, dan senyuman tipisnya itu begitu manis membuat jantung ini berdegub lebih cepat. Oohh tuhan bolehkah aku memintanya untuk menjadi pendamping hidupku suatu saat nanti. Sepertinya aku sudah benar-benar gila karenanya.
Namun tiba-tiba saja kereta telah berhenti dan ia berdiri sepertinya akan turun. Membuatku merasa kehilangan kapan lagi aku bisa berjupa dengannya. Ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya sejenak kepada ku yang kubalas dengan senyum kaku karna malu telah mentapnya diam-diam.
Ku pandangi langkahnya yang semakin jauh mengarah keluar dari gerbong. Dari jendela di sebelahku kulihat ia melangkah menuju seorang wanita yang sepertinya tengah menunggu kedatangannya. Sangat cantik serasi dengannya yang tampan. aku berfikir, apakah itu istrinya?. Tiba-tiba saja hati ini terasa sakit, pupus sudah harapanku untuk bisa bersanding dengannya.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







