
Oleh Zid-li Auliyana Luthfillah
Mengapa janda selalu dicap rendah? entah karena ditinggal suami mati ataupun cerai. Apakah strata yang menjadikannya berbeda? stigma itu lahir dari lingkungan masyarakat itu sendiri.
Contoh saja pada stereotip cerai, banyak stigma bahwa perceraian itu buruk. Lantas jika buruk, mengapa ada dalam al-Quran? Sebagaimana pada ayat berikut:
Al-Baqarah ayat 229
اَلطَّلَاقُ مَرَّتٰنِۖ فَاِمْسَاكٌۢ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ تَسْرِيْحٌۢ بِاِحْسَانٍۗ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ اَنْ تَأْخُذُوْا مِمَّآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ شَيْـًٔا اِلَّآ اَنْ يَّخَافَآ اَلَّا يُقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰهِۗ
فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا يُقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰهِۙ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيْمَا افْتَدَتْ بِهٖۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَعْتَدُوْهَاۚ وَمَنْ يَّتَعَدَّ حُدُوْدَ اللّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ٢٢٩
Artinya:
Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan (rujuk) dengan cara yang patut atau melepaskan (menceraikan) dengan baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu (mahar) yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami dan istri) khawatir tidak mampu menjalankan batas-batas ketentuan Allah. Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan batas-batas (ketentuan) Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya. Itulah batas-batas (ketentuan) Allah, janganlah kamu melanggarnya. Siapa yang melanggar batas-batas (ketentuan) Allah, mereka itulah orang-orang zalim.
Seringkali kita menganggap bahwa janda hina, padahal tidak juga. Rumah tangga yang selalu berisik, semua isi dalam rumah melayang. Suara nyaring terdengar baik baik dari benda yang terlempar ataupun perdebatan. Sok bilang “demi anak”, padahal anak sendiri sumpek dengan keadaan rumah.
Mending cerai saja. Dari kecil bahkan masa golden age ditampakkan hancurnya suasana rumah. Justru hanya menimbulkan trauma membekas di kepala. Mengungkit semua ekonomi dan kebutuhan anak, toh anak tidak minta dilahirkan. Orang tua yang minta anak untuk lahir, namun ketika lahir mengapa seolah tidak mengharapkannya?
Janda zaman dahulu dengan sekarang berbeda. Dahulu, peran perempuan seringkali terikat erat pada ranah domestik dan secara finansial bergantung penuh pada pasangan laki-laki. Bahkan menempuh pendidikan tinggi justru dicemooh “untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau ujungnya juga di rumah?”.
Di era kontemporer, perempuan secara umum memiliki akses pendidikan yang lebih luas dan setara, menghasilkan peningkatan signifikan pada tingkat partisipasi mereka dalam angkatan kerja profesional. Pertanyaan tadi bisa dijawab dengan lantang. Justru karena akan selalu berada di rumah bersama anak, maka dari itu harus mempersiapkan bagaimana menjadi ibu yang baik dan benar dalam mendidik anak. Karena anak yang cerdas berasal dari ibu yang cerdas juga.
Banyak perempuan kini memiliki penghasilan sendiri atau bahkan menempati posisi dengan stabilitas finansial yang tinggi. Sebagaimana fitrah perempuan ialah harta. Ketika perempuan sudah memiliki harta yang banyak, maka akan terlena dengan dunianya. Namun sebaliknya dengan laki-laki yang fitrahnya perempuan. Oleh karena itu sebanyak-banyaknya lelaki memiliki harta, tujuan utama pasti menikah.
Kemandirian ini merupakan faktor pembeda yang utama. Kemampuan untuk mandiri secara ekonomi memberikan perempuan pilihan dan agensi yang lebih besar dalam menentukan jalan hidupnya, termasuk dalam konteks kehidupan setelah berpisah atau ditinggal pasangan (status janda).
Itulah mengapa kedudukan janda dahulu dan sekarang berbeda. Perempuan sekarang memiliki kuasa, ia bisa sombong dengan kedudukan yang dimilikinya. Kedudukan harta finansial, kemandirian, dan lain sebagainya. Bahkan tak jarang perempuan memiliki rumah sendiri. Ketika menikah justru suami yang tinggal di rumah istri.
Ketika menjadi janda baik ditinggal meninggal atau cerai, perempuan masih memiliki kuasa. Berbeda dengan zaman dahulu, ketika menjadi janda justru ia di cemooh bahkan di usir oleh keluarga suami karena tidak pantas tinggal di tanah suaminya.
Tak hanya itu, faktor usia juga menjadi penyebabnya. Dimana perempuan dahulu menikah di usia belasan tahun yang artinya secara mental dan fisik belum siap menghadapi dunia rumah tangga. Namun sekarang, terutama Gen Z lebih sibuk mengejar di dunia pekerjaan daripada rumah tangga.







