Sunan Giri dan Kesultanan Ternate

Sunan Giri dan Kesultanan Ternate


Oleh: Ira
Safira Haerullah

         Sunan
Giri merupakan salah seorang walisongo yang menyebarkan islam di Jawa
terkhususnya di wilayah Gresik. Sunan Giri bernama asli Ainul Yaqin juga
memiliki julukan lain seperti Prabu Satmata, Raden Paku, Joko Samudra dan
sultan Abdul Faqih. Ayah Sunan Giri bernama Maulana Ishaq merupakan seorang
mubaligh ternama di Samarkand, Asia Tengah dan ibu Sunan Giri bernama Dewi
Sekardadu seorang darah biru yang merupakan putri dari adipati di Blambangan –
Banyuwangi menjelang keruntuhan Majapahit. Sang sunan lahir dengan selamat
namun sayangnya karena tempat lahirnya beliau terkena suatu penyakit beliau
akhirnya dibuang dengan peti besi ke laut oleh kakeknya. Setelah beberapa lama seorang
saudagar kaya raya Nyai Ageng Pinatih menemukannya kemudian memberi nama
    
Joko Samudra” .

      
      Diusia tujuh  tahun beliau dititpkan di pedepokan Sunan
Ampel untuk belajar langsung kepada Sunan Ampel yang ada di Surabaya . setelah
bertahun – tahun Sunan Giri diperintahkan oleh Sunan Ampel untuk berangkat ke Pesai
menuntut ilmu kepada Maulana Ishaq yang tidak lain adalah ayah kandung dari
Sunan Giri dan suadara kandung dari Sunan Ampel. Maksud lain dari Sunan Ampel
untuk mempertemukan ayah dan anak yang sudah lama dipisahkan oleh keadaan. Sesampai
di sana beliau bersama salah seorang putra dari Sunan Ampel menuntut ilmu dalam
jangka waktu yang lama kemudian melanjutkan perjalanan ke Mekkah untuk
melakukan ibadah haji di sana. Sebelum kembali ke Nusantara sang ayah memberikan
segenggam tanah dan memerintahkan Sunan Giri untuk mencari tanah yang serupa
dan diamanahkan untuk mendirikan pesantren diatasnya.


            Waktu terus berjalan Sunan Giri tak
pernah lelah menyebarkan agama Islam. Sesuai dengan perintah Sunan Ampel
kepadanya untuk menyebarkan agama Islam di Gresik kota di mana Ibu angkatnya
menetap karena Sunan Ampel menginginkan Sunan Giri membantu ibu angkatnya
berdagang di sana. Setelah berjalan cukup lama Sunan Giri akhirnya menemukan
tanah yang serupa
  dengan tanah yang
diberikan oleh ayahnya. Di atas tanah tersebutnya akhirnya Sunan Giri membangun
sebuah pesantren yang terletak
  di
dataran tinggi desa Sidomukti
  inilah
menjawab mengapa diberi nama Sunan Giri karena Giri mepunyai arti tinggi atau
gunung. Dalam waktu yang sangat singkat pesantren Sunan Giri terkenal di
seluruh Nusantara dan mendapat respon positif oleh masyarakat setempat orang –
orang mulai berbondong – bondong menuntut ilmu di pesantren beliau.


            Berdirinya pesantren Sunan Giri
terdengar sampai di
Jazirah Al Mulk (wilayah raja – raja) atau Maluku
terkhususnya di kerajaan Ternate yang saat itu dipimpin oleh Raja Marhum,
kolano[1]
 kerajaan Ternate yang tercatat
pertama kali masuk Islam meskipun islam sudah datang sejak lama di Ternate
namun belum ada keterangan jelas agama yang dianut oleh
 raja – raja sebelumnya karena
beberapa literatur menyebutkan bahwa
kolano sebelumnya merupakan putra
dari Jafar Shidiq tidak lain seorang Arab persia yang menganut agam Islam.


Kolano Marhum masuk
Islam setelah mendapat seruan dari Mubaligh besar asal minangkabau bernama  Datuk Maulana Husein yang datang di Ternate.
beliau juga merupakan murid dari Sunan Giri. Anak – anak dari raja Marhum
memperoleh ajaran islam yang dibimbing langsung oleh Datuk Maulana Husein salah
satu anaknya yaitu Zainal Abidin. Zainal Abidin memperoleh ilmu – ilmu Islam
kemudian di tahun 1494 beliau berangkat ke tanah Jawa untuk belajar Islam langsung
kepada Sunan giri hal ini berbuah baik karena antusias masyarakat Ternate yang juga
banyak merantau ke tanah Jawa untuk menuntut ilmu Islam di sana.


            Semasa menuntut ilmu agama di
pesantren Giri, Zainal Abidin mendapatkan gelar “Sultan Buawala” atau Sultan
Cengkih
 hal ini dikarenakan Ternate
terkenal dengan hasil rempah – rempahnya yang melimpah salah satunya yaitu
cengkih. Di pesantren Giri,
  beliau
terkenal dengan seorang pejuang yang gagah, berani, dan intelektual yang
sholeh. Beberapa literatur juga menyebutkan
 
bahwa Zainal Abidin adalah murid dari Sunan Ampel dan Alumni dari
sekolah Agama Islam asuhan dari Sunan Ampel. Setelah Raja Marhum wafat
beliaulah yang dipercaya oleh masyarakat Ternate untuk melanjutkan pemerintahan
kerajaan Ternate.

            
          Selang beberapa lama menuntut ilmu
agama di pesantren Giri, Zainal Abidin kemudian kembali ke Ternate dan membawa
salah satu ulama dari jawa bernama Tuhubahul. Pada masa inilah kerajaann
Ternate menjadi kerjaan islam
  dan
kemudia terjadi perombakan besar – besaran di kerjaan Ternate yaitu;
pertama,
gelar
kolano  yang diubah menjadi
sultan dan mengubah kerajaan menjadi kesultanan.
Kedua, meresmikan agama
Islam sebagai agama sah kesultanan.
Ketiga, membentuk lembaga kesultanan
baru
jolebe dan bobato akhirat yang membantu sultan dalam masalah
keagamaan dan menjalakan agama
  syariat
islam di kesultanan Ternate.
Keempat, memposisikan seorang sultan
sebagai pemimpin agama islam atau “
amr ad-din”  yang membawai bobato akhirat.
Perubahan yang dilakukan oleh sultan Zainal Abidin membawa pengaruh kepada
kesultanan lainnya yang ada di “
Moloku Kie Raha” dan sangat disegani
oleh kerajaan lainnya.

          
         Kemajuan pesat islam di Ternate
tentu tidak terlepas dari pengaruh Sunan Giri yang mempunyai hubungan baik
dengan Sultan Zainal Abidin.
  Hal ini
membuat masyarakat Ternate khususnya masyarakat Hitu sangat menghormati Sunan
Giri bahkan beberapa sumber menyebutkan ada sepucuk surat yang diberikan oleh
Sunan Giri kepada masyarakat Hitu begitu besarnya perhatian Sunan Giri kepada masyarakat
Ternate. Atas bantuan dan nasehat Sunan Giri rakyat terpukau dengan agama Islam
hal ini tidak dipungkiri oleh sultan Zainal Abidin.

       
     Pesan Sultan Zainal Abidin kepada
Sanak Keluarga:



Alhamdulillah, berkat berkembangnya islam di Ternate. Kini kerajaan Ternate
makin pesat. Agama Islam menjadi agam yang dianut oleh rakyat Ternate, dan
mudah – mudahan sepeninggalku kelak Ternate tetap menjadi kerjaan yang
penduduknya taat beragama Islam. Mudah – mudahan cucuku kelak menjadi muslim
yang taat beribadah kepada Allah Swt. Aku berpesan kepada kalian tidak
melupakan fakir miskin dan masjid. Para wali saat melakukan syiar Islam selalu
menitipkan agar memperhatikan fakir miskin dan masjid kepada pemeluk islam. Ini
menandakan betapa mulia dan luhurnya agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad
SAW.”

Sultan
Zainal Abidin kemudian wafat di tahun1500 M dan pemerintahannya dilanjutkan
oleh anaknya yaitu Sultan Bayanullah


[1] Kolano = Raja 
Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp