Tawa Ucen

Oleh Sayyid Aqil Husen

Suatu pagi, Ucen terbangun dengan semangat luar biasa. Hari itu ia yakin akan menjadi hari paling beruntung dalam hidupnya. Dengan cepat, Ucen bersiap-siap untuk pergi ke warung depan rumah, tempat di mana ia biasanya menghabiskan waktu berbincang-bincang dengan teman-temannya sambil menikmati kopi hitam.

Namun, begitu ia melangkah keluar rumah, Ucen terpeleset karena lantai depan rumahnya masih basah. “Aduh, hari belum apa-apa sudah jatuh!” keluhnya sambil mengusap-usap pantatnya yang sakit. Tapi, ia tetap positif, “Mungkin ini pertanda, jatuh dulu biar nanti naik lebih tinggi!” pikirnya sambil tertawa.

Setelah bangun dari jatuhnya yang cukup epik, Ucen berjalan dengan lebih hati-hati. Di warung, sudah ada Pak Budi dan Ibu Siti yang sedang asyik ngobrol. Ucen langsung bergabung, “Pagi, Pak! Pagi, Bu! Ada kabar apa nih hari ini?”

Pak Budi terkekeh. “Ada kabar bagus buat kamu, Ucen. Katanya sekarang di warung Mbak Yani ada undian berhadiah. Siapa tahu kamu beruntung hari ini!”

Mata Ucen berbinar. “Wah, beneran, Pak? Saya coba beli kopi terus ikut undian deh. Siapa tahu menang!”

Tanpa menunggu lama, Ucen memesan kopi hitam favoritnya. Sambil menunggu, ia mengisi kupon undian dengan antusias. Setelah selesai, ia masukkan kuponnya ke dalam kotak undian yang tersedia di sudut warung.

Beberapa jam kemudian, tibalah saat pengundian. Semua pelanggan warung berkumpul di depan Mbak Yani yang akan menarik undian. Dengan hati berdebar, Ucen berdiri di barisan depan. Mbak Yani mulai mengaduk-aduk kupon dalam kotak besar, lalu menarik satu kupon keluar.

“Dan pemenangnya adalah… Ucen!” teriak Mbak Yani sambil tersenyum lebar.

Ucen melompat kegirangan. “Yes, aku menang!” teriaknya.

Namun, begitu hadiah itu diberikan, Ucen terdiam sejenak. Hadiah yang ia dapatkan adalah… satu karung bawang merah.

“Seriusan, Mbak? Bawang merah?” tanya Ucen dengan wajah bingung.

“Ya, Ucen, ini hadiah spesial. Lumayan, kan buat masak di rumah!” jawab Mbak Yani sambil tertawa.

Ucen hanya bisa menggaruk-garuk kepala sambil tertawa kecil. “Yah, hari ini bener-bener penuh kejutan, deh. Tadi jatuh, sekarang dapet bawang merah. Mungkin besok-besok hadiahnya bisa kompor buat masakd bawang ini,” gumam Ucen sambil mengangkat karung bawangnya dengan pasrah.

Teman-temannya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Ucen yang kocak. Meski hadiahnya bukan yang ia harapkan, Ucen tetap pulang dengan senyum di wajahnya. Karena bagi Ucen, yang terpenting adalah bisa menertawakan segala hal yang terjadi dalam hidup, bahkan kalau itu cuma soal bawang merah!

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp