Air mataku jatuh satu persatu ke pangkuan lalu ku lihat disudut halaman rumah tertutup ini ada segerombol tebu. Tebu adalah tanaman spiritual Jawa, dari kata antebing kalbu, kemantapan hati tanaman ini selalu tumbuh serumpun, sauyun, seperti bambu. Ini adalah pola pikir kebersamaan.
Tebu selalu tumbuh keatas. Daunnya penuh keindahan. Gending tebu sauyun yang memiliki pesan ajaran kerukunan. Belajarlah dari tebu, yang harus memberikan rasa manis harus digiling terlebih dahulu, diperas, bahkan di injak-injak sampai benar-benar mengeluarkan sarinya. Proses ini menandakan jerih payah hidup, bahkan untuk mencapai kenikmatan butuh perjuangan yang panjang.
Tebu adalah pilar berfikit indah, penuh sari manis. Ia tumbuh ke atas, memerhatikan kebersamaan, keras kulitnya tapi manis dalam rasanya. Tebu, mantep ing qolbu.








