![]() |
| pecihitam.org |
Oleh Ainu
Habibi
Tidak
dikatakan sempurna iman seseorang yang tidak meyakini makhluk ghaib, banyak
masyarakat awam pada umumnya yang tidak mempercayai adanya hal ini. Disisi lain makhluk ghaib di sebut sebagai makhluk
halu, makhluk yang tak kasat mata, atau bahkan makhluk astral yang tidak dapat
dijangkau oleh panca indra manusia. Makhluk berasal dari bahasa Arab “yang
diciptakan” dan ghaib artinya “tidak tampak”.
الذين يؤمنون بالغيب ويقيمون الصلوة
ومما رزقنهم ينفقون
Artinya: (yaitu) mereka yang
beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian
rezeki yang kami berikan kepada mereka (Qs Al-Baqarah ayat 3).
Dari pemaparan ayat diatas,
orang-orang yang beriman kepada Allah Swt membenarkan kepada yang ghaib yang
tidak kelihatan oleh panca indra mereka, surga dan neraka adalah sebagai
contohnya, kemudian mendirikan shalat melakukan sebagai mana mestinya (sebagian
dari yang kami berikan kepada mereka) yang telah kami anugerahkan kepada mereka
sebagai rezeki.
عن عمر رضى اللهُ عنه أنهُ قال موقوفاً عليه أو مرفوعاً إلى
النبى صلى الله عليه وسلم، فالموقوف ما روى عن الصحابة ولا يتجاوز به الى رسول
الله صل الله عليه وسلم، والمرفوع ما أخبر به الصحابى عن قول رسول الله صل الله
عليه وسلم، لولا
ادعاء الغيب لشهدت على خمس نفر أنهم أهل الجنة) أى لو لا مخافة ادعاء الغيب مانع
لقلت شهدت على خمس جماعة أنهم من أهل الجنة (النصائح العباد، 2005، الصفحة، 31 ).
Dari ucapan sayyidina Umar Ra beliau berkata sebagai
hadist mauquf alaih atau hadist marfu’ kepada baginda nabi Muhammad Saw. Maka
yang dinamakan hadist mauquf ialah suatu
hadist yang diriwayatkan dari sahabat tetapi hadist itu tidak sampai dengan
periwayatnya kepada nabi Muhammad Saw. Dan yang namanya hadist marfu’ itu
adalah ucapan para sahabat menceritakan dengan ucapan itu dari ucapan baginda
Nabi Muhammad Saw adalah; seandainya tidak ada takut mengaku tahu tentang hal
yang ghaib itu yang melarang maka yakin aku ucapkan aku telah melihat dengan
nyata atas lima golongan sesungguhnya mereka itu semua ahli surga.
Iman terhadap yang ghaib dalam Islam menjadi tingkatan paling utama,
keimanan tersebut diharapkan bukan hanya ilmu pengetahuan saja juga meliputi
penghayatan dan pengamalan. Ilmu pertama yang wajib dipelajari dalam Islam,
sebelum mempelajari ilmu lainnya di antaranya adalah Ilmu Tuhid, ilmu yang
berasal dari Rukun Iman, dimana di dalamnya merupakan ilmu mengenai hal-hal
yang berkaitan dengan yang Ghaib. Ar-Raghib Al-Asfahany berkata: “Apa saja yang
lepas dari jangkauan indra dan pengetahuan manusia adalah ghaib”. Al-Baji
berkata: “Ghaib adalah apa yang tidak ada dan apa yang tidak tampak oleh
manusia.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







