Ibu mengangguk dan bayangan Dayat langsung mengarah pada laki-laki yang lebih
tua tiga tahun darinya namun mengalami keterbelakangan mental. Ia tak pernah
keluar pagar halaman rumahnya kecuali sesekali menggoda orang-orang yang lewat
di depan rumahnya, terutama gadis-gadis. Matanya berkelakar mirip bapaknya,
yang dulu pun sempat ingin memaksa ibu menikah. Namun Ibu menolak sebab bapak
masih hidup meskipun terkena stroke dan bilapun tiada Pak Sleman bukan orang
baik yang bisa dijadikan pilihan. Lelaki baik macam apa secara terang-terangan
melamar istri orang? Begitu pula Dayat. Siapa rela ibunya menjadi tawanan
raksasa botak gila. Keinginan Pak Sleman mencoba berbagai cara dan berhenti
pada “katanya” berbaik hati memberi uang bulanan pada keluarga Minah sambil sesekali
datang dengan niat ditemani bercengkrama. Dengan kondisi yang tidak bisa
dipungkiri membutuhkan, akhirnya, Ibu meladeni cakap-cakap dengan Pak Sleman
dan menerima uang bulanan. Sejauh ini hanya itu yang Dayat tahu. Ibu tidak
pernah bercerita orang tua itu meminta sesuatu yang lebih dari ibunya.
ridho, yat.”
menuruni sifat ibunya yang berkulit kuning dan berlesung pipit. Sesiapa yang menyadari,
Minah calon kembang desa dan usianya baru empat belas tahun. Namun karena masih
belia dengan sikapnya yang masa bodoh, dirinya mungkin tak mengindahkan
beberapa selentingan puji atau lirikan abang-abang sebaya kakaknya di warung
kopi. “Duh,.. cueknya, awas jauh jodoh!” Kelakar sebuah suara sesekali.
Kini hati Minah yang tersirap mendengar kata-kata ibu, lepas shalat isya
berjamaah. “Tapi buk, kenapa? Apa Minah sangat nakal di mata ibu dan bapak?”
Ibu terdiam dan Dayat juga hanya tertunduk. Kini Minah mendekati kakaknya. “Mas,.. kok aku mlebu pondok, mas? Sepurane talah
mas, sing awan mau. Sumpah nggak bakal tak baleni![2]” Mata Minah
berkaca-kaca. Begitu pula mata ibu, tapi beliau sangat pandai berpura-pura
tidak menunjukkan kesedihan.
nggak nakal. Justru karena Minah itu pinter.
Eman[3] kalo nggak
belajar, tapi ibu sama bapak ndak kuat kalau harus biayai di sekolah formal.”
mondok buk. Jauh dari bapak, ibuk.” Minah memeluk ibunya. Dayat tersentuh ikut
mengusap matanya.
Mondok itu ndak lama. Ya sama kayak sekolah. Nanti ibu dan Mas Dayat bakal
sering jenguk Minah.”
Minah mulai meleleh. Dayat mencoba menenangkan diri sambil berkata
tetangga, nangis keras-keras. Kamu bukan bayi lagi ya. Wes, kamu manut kata ibu
saja. Mau jadi anak durhaka? Dikutuk jadi batu!”
Ibu tersenyum. “Mas … ndak oleh njarak
adike. Wes nggak usah nangis[5].” Ibu menghapus
airmata Minah lalu memeluknya erat. “In shaa Allah ini keputusan terbaik, nduk.
Disana kamu nggak cuma belajar, ngaji, tapi juga punya banyak teman. Nggak
bosen kamu rebutan layangan sama anaknya Pak Sleman ?” Tangis Minah mereda.
“Buk, kalau ini cuma gara-gara layangan. Besok layanganya aku kasih si gendut
wes. Asal aku nggak usah mondok.”
iki!”
Jawab Minah sinis pada kakaknya. “Uwes
nggak usah tukaran.[7]
Nggak nduk,.. bukan itu. Sudah,.. sekarang kamu harus ridho dulu sama keinginan
ibu. Ndak mungkin to nduk, ibu nyuruh mondok kamu itu sebagai hukuman atau biar
kamu sengsara. Ibu macam opo iku ?” Suasana hening sesaat, tapi Minah tak mau
melepas pelukan ibunya.
cerita Fatim tentang arak-arakan itu, bangun malam yang diguyur air, hingga
dipaksa menghafal Al-Qur’an dan bahasa arab. Itu bukan dunianya, dia akan
dikucilkan. Pikiran Minah melang-lang kemana saja ia bisa pikirkan dalam hening
itu. Bahkan ia sempat terfikir tentang Bandi. Ia belum mengucapkan terima
kasih.
mengelus kepala putrinya dan mereka berbalas senyum. “Nah,.. senyum ngunu kan ayu, to[9].” Tambah ibu.
to Nah, lek awakmu ridho in shaa Allah bojomu sok anak,e kyai. Hehehe..[10].” Ujar kakaknya.
Minah tampak terkejut.
opo mas-mas![11]”
pengen meluk aku ta?[12]”
Mambu mbek.[13]”
aku wes adus ya.[14]”
Ibu tersenyum melihat dua anaknya.
ae.[15]”
buk,.. anak e njenengan buk. Kelakuane ancene![16]”
itu berlangsung karena siapa tahu, itulah gambaran saudara terindah yang
terakhir bagi mereka.
hanya punya waktu tiga hari untuk melepas dunianya sembari Ibu dan Kakaknya
mengurus segala keperluan. Meski katanya Minah telah ridho, namun gadis itu tak
tampak antusias ketika diajak Ibu membeli beberapa jilbab dan pakaian baru
untuk mengaji. Untung didaerah kampungnya tepat di tepi jalan aspal, ada toko
baju yang telah banyak dilanggan orang. Hal ini membuat Ibu tidak perlu
membayar ongkos karena mereka memilih berjalan kaki. Sepanjang jalan Minah
terdiam. Sesekali ibu mengajak Minah bicara tentang warna baju yang ia suka
namun ia hanya menjawab lemah.”Iya” “tidak.” “boleh”. Ibu tersenyum dan
menghela nafasnya. Ia tahu, putri kesayangannya sedang berdamai dengan badai
dalam dadanya. Ibu memegang tangan anaknya erat.
Alhamdulillah.”
ibu dan si penjual baju pun berlanjut. Minah yang memang dasarnya tidak senang
dibawa ke tempat itu akhirnya memutuskan keluar. Menunggu di dekat pintu tralis
sambil memainkan batu atau tanah dihadapnya. Ia tak sadar ada sepasang mata
melihat tingkah lakunya. Sepasang mata bola itu mengerjap beberapa kali.
Memastikan yang dilihatnya itu Minah. Ia menelan ludah, ada hasrat dalam
dirinya untuk mendekati gadis itu tapi ia sangat gugup. Apa yang ada dalam
dadanya membuncah tak karuan. “Apa yang harus ku lakukan?” batinnya. Kakinya
masih terdiam meski ada alarm dalam hati untuk maju atau lari dari tempat ia
berdiri. Pintu rumah dihadapan, namun rasanya itu begitu jauh. Sementara Minah
terlihat dekat, nyata dan sebagai sebuah kesempatan.
menyadari dirinya dipandangi lalu mendekat pemilik mata. Ia memastikan itu
sosok yang ia lihat bersama anak Pak Sleman lusa lalu. Sang pemilik mata
benar-benar tak tahu lagi akan bagaimana. “Eh-Eh-hei.. Minah.” “Kok kamu
disini?” “Ini-ini rumahku.” “Kamu,.. namanya Bandi kan ya? Yang kemarin main
sama gendut?” Sosok yang ditanyai hanya manggut-manggut. Ia tak menyangka gadis
itu tahu namanya. “Ah, iya kan. Bener. Aku nggak pernah salah ngenalin orang.
Oh,.. iya kok kamu tahu namaku sih? Si Gendut pasti bicara macam-macam ya?”
Selidik Minah. Kini Bandi mulai bisa agak santai. “Ah, itu,.. Iya beberapa kali
namamu disebutnya.” “Hu-uh. Memang anak itu! Aku kasih tahu ya,.. kamu jangan
percaya sama omongan anak itu! Kamu sepertinya anak baik-baik, jadi jangan
terpengaruh sama kata-katanya. Aku tahu sih, mungkin aku suka lari-larian,
ngejar layangan tapi aku ini tetep anak baik-baik. Buktinya aku mau mondok.”
Kata gadis itu bangga. Bandi sama sekali tak menyela kata-kata gadis manis
dihadapnya. Semua informasi itu dibagi Minah secara gratis dan Bandi
menganguk-angguk. Namun ada satu fakta menarik. “Ha,.. kamu mau mondok?!” “Iya.
Kenapa? Kamu nggak percaya?” Bandi terbata “Ah,.. enggak. Bukan. Cuma.. Cuma mau
bilang, a-a-aku,.. Aku juga sebenarnya anak pondok, cuma, aku mengambil izin libur
seminggu soalnya paman yang bujang di Kalimantan sakit dan meninggal lusa lalu.
Kami sekeluarga melawat.” “Oh.. begitu.”
percakapan keduanya.
ke pondok kapan?”
kapan?” Tanya mereka berbarengan lalu disusul tawa ringan mereka.
menyenangkan kok.”
Tanpa sadar Bandi telah berani memulai sebuah percakapan. Ada sedikit
kebanggaan dalam hatinya. “B-B-boleh kita ketemu lagi besok? Akan aku ceritakan
hal-hal yang menarik.” “Wah dengan senang hati! Sesuk anding Sawah.e masku yo[17]! Habis bantu mas ngarit, kita ketemu.”
berlangsung. Bandi menghampiri Minah di dekat sawah dan mengajaknya bercerita
banyak hal. Sesekali Bandi menawarkan diri membantu Dayat menyabit. “Lhoh,.. iso to le?[18]” “Saget lah, mas. Pun biasa ken angon wedhus.e
yai kula.[19]”
“Weh.. hebat!” Dayat tampak senang dengan Bandi dua hari itu. Pekerjaanya
menjadi lebih ringan. Bukan perihal fisik, tapi dalam hal menasihati adiknya. Sesekali
Dayat juga menyimak cerita dari Bandi. “Gak
onok ceritane, sepi wes![20] Di pondok itu
selalu ramai dan anaknya kompak-kompak. Sekalipun harus ditakzir.” “Ha? Opo iku? Takir?
Oh.. syukuran?” “Hus, ngawur. Dek Kasir. Iku lho sing biasane ngge bayar-bayar
belonjo.” Bandi tertawa kecil melihat reaksi kakak beradik itu. “Takzir itu hukuman, mas. Maksudnya. Buat
ngajarin disiplin.” Minah dengan matanya yang sesekali mengerjap bertanya. “Lhah
berarti bener dong yang selama ini Fatim bilang?” “Iya memang, tapi maksud
pondok, takzir itu semata-mata untuk pembiasaan baik santrinya. Tidak bermaksud
menyiksa. Sekalipun anak itu malu, malunya hanya dihadapan orang-orang yang
sedikit. Coba kalau malunya di akhirat? Saksinya Tuhan dan manusia semesta
alam.” Minah matanya membulat, keridhoannya mungkin sedikit bertambah.
berpisah, senja itu Bandi mengulurkan selembar kertas. “Kita mungkin nggak se
pondok, Nah, tapi kalau kamu ada apa-apa atau butuh sesuatu mendesak. Hubungi
nomer ini ya dan mengaku kalau kamu saudaraku. In shaa Allah aku bisa
membantumu.” Minah menerima kertas itu. Ada perasaan berdesir dalam hatinya
namun ia tak ingin lanjutkan. Ia bisa merasakan pipinya menghangat. Minah sadar,
dirinya tidak baik-baik saja. “I-Iya.. Makasih, Ban. K-ka-kamu baik-baik di
pondok ya. Jaga diri.” Belum Bandi menjawab, Minah berlari menyusul kakaknya
menuntun sepeda. Laki-laki itu hanya tersenyum dan ketika ia hendak melangkah
lebih jauh. Samar ia mendengar teriakan Minah. “Mas.. Aku isiiiiin…[21]”
Hari ini hari terakhir Minah di rumah. Pagi
selepas subuh, ketika jingga fajar bermain lembut, Minah telah berpakaian rapi
dan membawa satu tas ransel besar. “Pak,..
kula pamit nggeh.[22]” Minah mencium
tangan bapaknya lama lalu memeluk beliau. Air hangat mengalir dari kedua mata
bapak dan beliau menganguk meski berpayah. Ada kelegaan, kebanggaan dan harapan
dalam hati bapak melihat anaknya pergi meski ia akui itu berat. Ibupun
demikian, namun lagi-lagi ibu berhasil menyembunyikan kesedihannya. Ia tak
ingin Minah berubah pikiran ketika melihatnya menangis apalagi sekarang pun ia
sudah memiliki mata kaca. “Uwes,.. nggak usah nangis, nduk. Niat ingsun golek ilmu sing tenanan yo?[23]” “N-ng-nggeh buk.”
Gagal. Tangis Minah pecah. Dayatpun sepertinya ikut-ikut meneteskan airmata
namun ia belajar menutupinya seperti ibu. “Lah-lah malah tambah nangis. He,. Uwes he.. ayo selak awan[24].” Kini Minah
benar-benar telah mengumpulkan niat dan tak akan mengecewakan kedua orang
tuanya. Terlebih semalam ia telah mengetahui alasan sebenarnya dari permintaan
ibu yang tiba-tiba ini. Hari ini konon Pak Sleman dan keluarga besarnya akan
datang resmi melamar Minah untuk Joko. Meski mungkin pondok hanya sekedar
alibi, namun dari kisah-kisah Bandi, membuat gadis ini ingin belajar lebih
banyak dan insting mempertahankan dirinya terpaksa berontak dan memilih
menjalankan kehendak ibu. Lalu
bagaimana dengan hari ini nanti? Bagaimana jika Pak Sleman datang bersama
keluarga besar dan ternyata Minah tidak ada? “Biar saja mereka malu dan
merasakan jera. Jika tak begitu, mungkin mereka tidak akan melepaskan kita.”
Ujar Dayat diantara dinginnya pagi mengantar adik tersayangnya memilih jalan
yang benar.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang








