Wanita pencari cinta, dimanakah?

Oleh:
Nur Sholikhah

                Hidup dalam
kepura-puraan menjadi gaya hidupku saat ini. Dan aku begitu menikmatinya, meski
kutahu rasa ini bukanlah rasa yang sesungguhnya. Bahagia yang aku miliki bukan
rasa yang tumbuh secara alami, semua hanya rekaan. Karna hidup di zaman yang
serba salah butuh sebuah pencitraan.
                Aku seorang wanita yang hampir
berkepala tiga, siapapun yang baru mengenalku pasti mengira bahwa aku sudah
hidup berdampingan dengan seorang lelaki idaman, berteduh dalam satu atap,
melangkah pada satu tujuan. Tapi tidak, aku belum pernah melakukannya meski
usiaku tak lagi muda. Itu terjadi atas kehendak Tuhan, bukan mauku. Aku wanita
normal yang pasti menginginkan sebuah pernikahan, hidup dalam sebuah ikatan
suci dan janji-janji.
                “Suamimu dimana? Kerja apa dia?”
                “Sudah
punya anak berapa?”
                Pertanyaan itu selalu
menghantamku saat aku baru saja berbincang dengan seorang pelanggan. Jangan
tanya apa pekerjaanku, karna tidak pantas bila aku jujur. Hidupku sudah
terbiasa dengan kepura-puraan. Aku menekuni pekerjaan ini sudah hampir 5 tahun.
Sejak rasa cintaku dibawa pergi olehnya, pergi jauh dan tak pernah kembali.
Kala itu mungkin aku sedang frustasi, hidup di bawah garis kemiskinan,
terlunta-lunta tak punya keluarga, ditinggal oleh dia yang telah merenggut masa
depanku. Ah kau pasti bisa membayangkan betapa hancurnya perasaanku.
                Tak ada yang menolongku saat
itu, manusia-manusia yang hidup sebagai tetanggaku sudah terlanjur mencibir dan
memaki tanpa tahu bagaimana kondisi tubuh dan perasaanku. Padahal mereka adalah
orang-orang yang kuanggap suci karena setiap hari memiliki kesempatan untuk
pergi ke rumah-Nya, mengikuti ceramah-ceramah agama, membaca kitab-kitab suci
yang aku tak pernah bisa membacanya. Kemana lagi aku harus melangkahkan kakiku?
Seolah dimanapun aku berpijak, orang-orang dengan egonya mengusirku. rasa peri
kemanusiaan benar-benar tak bisa lagi kuharapkan. 
                “Dasar wanita jalang, pergilah
dari rumahku! Aku tak sudi punya calon istri macam kamu,” dia mendorong keras
tubuhku, oh Tuhan ini seperti kejadian dalam adegan sinetron. Sandiwara macam
apa ini? 
                Bibirku terasa keluh, tak mampu
berucap sepatah katapun. Dasar lelaki buaya! Andai aku sudah tak punya rasa
iba, pasti aku akan menyebar aib tentangmu. Katanya wakil rakyat, menghidupi dan
mengayomi satu rakyat sepertiku pun tak bisa. Dunia terbalik, manusia bekerja
di atas pencitraan. Itulah kau, lelaki buaya.
                Malam begitu suntuk, rasa kantuk
mulai hinggap di pelupuk mata. Dimana harus kusandarkan tubuh ini? aku sudah
tak punya atap untuk berteduh. Kos-kosan yang aku sewa telah habis masanya, semua
barang-barangku telah dikeluarkan paksa oleh pemilik kos. Ide gila terlanjur
menjadi sebuah tindakan, aku menjual semua barang-barang yang aku miliki. Dan uang
hasil penjualan itu aku jadikan uang saku untuk mengunjungi lelaki buaya, wakil
rakyat. Bodoh, aku memang bodoh. Harga diri serasa telah pergi, rasa malu
semakin menjadi-jadi, apa yang harus kucari kini?
                Cinta? Kasih sayang? Belas kasih?
Hidup baru? Sepi? Senyum?
Bersambung….
Malang, 10 Muharram 1440 H

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp