Adu Domba Demonstrasi: Lagu Lama yang Diulang Kembali

Oleh Siti Rahmatillah

 

Jauh sebelum akhir-akhir ini terjadi, katakanlah provokasi yang menyebabkan terjadinya adu domba, konflik horizontal, kerusuhan, dan sejenisnya dalam demonstrasi, itu bukanlah hal yang baru, jadi jangan kaget. Dari dulu musuh negara kita adalah adu domba. Masih ingat dengan “devide et impera?”. Devide et impera adalah strategi invansi Belanda untuk memecah belah rakyat. Sehingga, ketika rakyat terpecah belah, kekuatan mereka melemah, sibuk memerangi saudara sendiri dan Belanda di sini memanfaatkan situasi untuk menguasai dengan mudah, ini licik sekaligus taktik.

Kemudian fakta yang lebih unik lagi adalah salah satu watak dan karakter asli rakyat Indonesia adalah toleransi. Jauh sebelum penjanjahan datang, mereka sudah hidup rukun, saling menghormati, menghargai, dan berbaur satu satu sama lain. Namun, penjajah tidak pernah kehabisan cara untuk memecah belah rakyat. Eksistensi rakyat Indonesia yang majemuk (kekayaan budaya) menjadi ruang bagi mereka untuk mengadu domba sehingga terciptalah konflik antar ras, suku, dan budaya. Jadi, maukah kita dibodohi dan dikibuli lagi? lebih-lebih penjajah yang menjelma menjadi pengkhianat negara sendiri, hati-hati!

Apa Hubungannya Adu Domba Penjajah dengan Demonstrasi?

Hubungannya adalah siapapun mereka yang menciptakan kerusuhan, provokator yang menyebabkan terjadinya pemecah belah, tiada lain adalah musuh, baik itu musuh di luar selimut maupun dalam selimut. Tetapi bukan di sini esensi yang ingin penulis tekankan, tetapi bagaimana kita mempelajari tragedi 1998. Dalam hal-hal darurat seperti ini, akan ada kelompok-kelompok tertentu (oknum) yang berkepentingan yang selalu memanfaatkan. Ini yang perlu kita perhatikan, pahami, dan kuasai. Jangan lagi gampang tersulut oleh emosi, jangan lagi mau turut memprovokasi, jangan lagi mudah tertipu oleh lagu lama yang pada akhirnya terjadi hal-hal di luar kendali, tetap fokus pada esensi dan subtansi. Kalau kata Bung Ferry Irwandi “sudah saatnya kita memakai otak dan teknologi”. Otak untuk memahami narasi-situasi dan teknologi untuk mengatur strategi; mengabarkan, memahamkan dan menyadarkan.

Kekeliruan yang Perlu Diluruskan 

Banyaknya kekeliruan masyarakat kita dalam menyikapi dan memahami potongan-potongan narasi provokatif yang akhirnya membuat kita dilematis, contoh “demonstrasi anarkis, pembarakan fasilitas umum, dll”, “kita ga bisa menyalahkan polisi, mereka hanya menjalankan tugas”. Pertama “demonstrasi anarkis, pembarakan fasilitas umum”, mutlak salah jika ini ulah provokor karena tujuannya bukan hanya menimbulkan kebencian sesama rakyat tetapi juga pemerintah. Tepai bagaimana jika memang ini ulah rakyat?” bukan hal yang salah, karena kita terlalu sibuk melihat akibat tanpa menanyakan apa sebabnya. Biarlah pembakaran itu sebagai bentuk ekspresi kekecewaan dan kemarahan karena suaranya tidak didengarkan dan dipertimbangkan, mungkin dari berbagai cara, itu adalah puncak cara agar didengar dan diperhatikan.

Lalu, bagaimana jika “perusakan fasilitas umum” dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu (melihat peluang untuk menggiring opini publik)? Untuk rakyat perhatikan narasi informasi yang disuguhkan, jika isinya hanya fokus pada pembakaran dengan berbagai alasan logis itu tidak dibenarkan lalu muncul kebencian, selamat adu domba berhasil. Seharusnya informasi yang benar harus bersifat objektif, sertakan juga alasan apa di balik adanya pembakaran tersebut, jangan berat sebelah dan menggiring keberpihakan. Sedangkan untuk pemerintahku tercinta, adalah sebuah manipulatif dan pembodohan jika dengan hal itu menyalahkan rakyat, harusnya berbenah, mengevaluasi dan menanyakan hal sederhana “salahku apa ya?” hehe… Jadi, di sini telah terjadi keseimbangan, jangan hanya akibat dari rakyat yang difokuskan, perhatikan juga sebabnya.

Kedua “kita ga bisa menyalahkan polisi, mereka hanya menjalankan tugas”, komentar-komentar seperti ini terbang bebas di berbagai media. Tanpa berpikir paling mendasar, ini akhirnya membuat dilematis; sama-sama kasihan sama peserta demo yang menyuarakan suara rakyat dan polisi yang represif karena “mereka hanya menjalankan tugas”. Justru karena tugasnya, tindakan represifnya itu tidak bisa dibenarkan, lebih-lebih tugasnya itu diatur dalam UUD 1945 pasal 30 ayat 4 (silakan diresapi baik-baik makna tugasnya). Bukan UU, sekali lagi UUD 1945 dasar hukum tertinggi yang menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi, ketika ada tindakan represif, itu bukan hanya pelanggaran tetapi mengkhianati dan menodai cita-cita leluhur bangsa.

Negara kita memang lagi sakit, tapi bukan berarti tidak ada harapan untuk kembali bangkit, mari sama-sama berjuang untuk menyembuhkan. Ingat, negara ini dibangun dengan keberanian, persatuan, dan doa-doa yang selalu dilangitkan. Silakan tentukan peran terbaik mu di bagian mana, (1) berani bersuara, (2) tidak memecah belah dengan asumsi-asumsi kebencian, provokatif yang memecah belah; sesederhana tidak saling menyalahkan antar voter satu, dua, tiga (3) menggemakan harapan kepada Tuhan. Semua peran ini penting yang tidak penting itu memikirkan dia yang tidak memikirkanmu, tapi kenapa candu?

 

Referensi

Politik Pecah Belah dalam website Wikipedia, diakes 1 September 2025

Perpecahan di Tengah Kebangkitan dalam website NU Online, diakes 1 September 2025

Indonesia Sejarah Masa Penjajahan Belanda dalam website Indonesia Investments, diakes 1 September 2025

Bermacam Pajak Era Kolonial dalam website HistoriA, diakses 1 September 2025

Sejarah Membuktikan, Karakter Asli Orang Indonesia itu Toleran, dalam website Kompas.com, diakses 1 September 2025

 

Author

satu Respon

  1. Menilisik dari tulisan tersebut, ada beberapa sejumlah publik figur yang “mendoktrin” dengan narasi persuasif untuk mengajak kita sejalan dengan pemikirinnya. Apakah hal yang demikian merupakan salah satu faktor yang membuat tanggapan masyarakat menjadi bias, atau justru sebaliknya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp