BERKAH SHOLAWAT, HIDUP BAHAGIA

BERKAH SHOLAWAT, HIDUP BAHAGIA

Oleh: Siti Laila ‘Ainur Rohmah

Ada salah satu kisah betapa berkah sholawat itu nyata dialami oleh almarhum K.H Mufid
Mas’ud (pendiri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta). beliau ini salah satu
pengamal sholawat yang termaktub dalam Dalail al-Khairaat karangan Sayyid Abu Abdillah
Muhammad Bin Sulaiman Al-Jazuli. Di sisi lain, beliau juga mendapat ijazah sholawat dari para
habaib di Pulau Jawa.

Bapak, begitulah panggilan akrab yang disematkan kepada beliau di kalangan santrinya.
Hal ini dimaksudkan agar tidak adanya sekat antara beliau dengan para santri, seakan-akan
beliau dianggap menjadi orang tua mereka sendiri. Dari segi perekonomian keluarga beliau
benar-benar memulainya dari nol. bahkan ketika menikah, beliau tidak memiliki modal apapun
karena saat nyantri pun ikut bekerja di salah satu kiai Pondok Krapyak. Meski begitu, tidak
menyurutkan semangat beliau untuk menuntut ilmu dan menjadi orang berhasil, hingga
kemudian beliau diambil menantu oleh keluarga besar K.H. M. Munawwir.

Ketika baru menikah, Kiai Mufid berusaha mandiri dengan mengontrak rumah di dekat
Pondok Krapyak, sambil berjualan gorengan. kemudian beliau babat alas dan mendirikan
Pondok Pesantren Sunan Pandanaran. kala itu masih sepi dan banyak dari masyarakat yang
masih memelihara anjing dan beternak babi. dengan kondisi yang seperti itu, beliau benar-benar
mulai membina santri dan masyarakat dari nol yang belum tahu apa-apa hingga mengetahui hal-
hal yang haram dan halal.

Di berbagai kesempatan, beliau selalu memberikan nasehat kepada para santri dan
masyarakat untuk selalu memperbanyak dua hal:
“banyak-banyaklah membaca Al-Qur’an dan banyak-banyaklah membaca sholawat”
Perkataan beliau tersebut bukan tanpa bukti, tetapi sungguh beliau merasakan sendiri
betapa keberkahan Al-Qur’an dan sholawat sangat luar biasa terhadap kehidupan manusia di
dunia maupun di akhirat. Betapa keberkahan hidup di dunia yang telah beliau rasakan
sebagaimana telah dituturkan K.H. Abdul Hafidz Abdul Qodir, Kiai Mufid termasuk golongan
orang-orang yang berkecukupan.

Pernah suatu saat Kiai Mufid ditawari untuk menjadi anggota DPRD Tingkat I DI
Yogyakarta, namun beliau menolak. Di waktu yang hampir bersamaan, beliau juga ditawari
untuk menjadi dosen luar biasa di UIN Sunan Kalijaga dan hakim Pengadilan Agama
Yogyakarta tetapi keduanya beliau tidak ingin menerima. Kiai Mufid lebih senang berjuang di
jalur agama membimbing santri dan masyarakat. ketika itu beliau pun mengatakan, meski tidak
menjadi apa-apa (tidak menjabat apapun di lembaga profit) insyaAllah beliau tetap bisa hidup
berkecukupan.

Alhamdulillah hal itu dapat dibuktikan sendiri dengan kehidupan beliau
sekeluarga yang bisa dikatakan lebih dari cukup dan termasuk sukses. Kedua anaknya tinggal di
Saudi Arabia, sedangkan lainnya ikut meneruskan perjuangan sang ayah membesarkan Pondok
Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta, termasuk di dalamnya adalah K.H. Mu’tashim Billah
yang kini menggantikan posisi ayahnya sebagai pengasuh.

Dari cerita di atas menggambarkan bahwasanya Kiai Mufid merupakan salah satu bukti
nyata akan keberkahan sholawat. Kehidupan duniawinya benar-benar dijamin oleh Allah SWT
begitu pun insyaAllah kehidupan akhiratnya. Sungguh, betapa besar karunia Allah kepada para
hamba-Nya yang taat.

Referensi : Muhammad, Syukron Maksum Ahmad Fathoni el-Kaysi. 2009. Rahasia
Shalawat Nabi. Yogyakarta:Mutiara Media.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp