
Muhammad Habib An-Nizami Tanjung
Ada sebuah amanah yang begitu berat ketika kita menyematkan kata Islampada
sebuah nama organisasi. Kata itu bukan sekadar label, bukan pula sekadar identitas. Ia
adalah cerminan dari nilai-nilai luhur: kedamaian, persaudaraan, keadilan, dan akhlak
mulia. Namun, dengan hati yang berat, kita harus bertanya pada diri sendiri: sudahkah
organisasi-organisasi mahasiswa Islam di sekitar kita benar-benar menjadi cermin dari
nilai-nilai agung tersebut?
Tulisan ini lahir bukan dari kebencian, melainkan dari rasa cinta dan kepedulian. Ini
adalah sebuah muhasabah, sebuah introspeksi bersama, untuk melihat mengapa
seringkali kita mendengar kabar yang memilukan dari lembaga-lembaga yang seharusnya
menjadi garda terdepan dalam dakwah dan pembinaan karakter. Ketika ego kelompok
lebih nyaring suaranya daripada etika, ketika solidaritas buta mengalahkan akal sehat, di
situlah krisis moral dimulai. Mari kita beranikan diri untuk melihat cermin yang retak ini,
bukan untuk menghakimi,tetapi untuk memperbaikinya bersama.
Bab 1:
Cermin Retak: Potret Buram yang Sering Kita Lihat
Untuk memahami sebuah masalah, kita tidak perlu menyebut nama. Cukup dengan
melihat fenomena yang terjadi di sekitar kita, di banyak kampus di seluruh Indonesia. Ini
adalah potret-potret buram yang sayangnya terlalu sering kita saksikan.
Ketika Fisik Lebih Cepat Bergerak Daripada Pikiran : Pemandangan yang paling
melukai hati nurani adalah ketika mahasiswa yang membawa bendera berlafaz suci justru
terlibat bentrok fisik. Hanya karena beda warna almamater jas atau beda pandangan,
dialog yang sehat berubah menjadi saling ejek di media sosial, yang kemudian tumpah
menjadi adu jotos di dunia nyata. Acara penerimaan mahasiswa baru yang seharusnya
menjadi momen penyambutan yang hangat, terkadang dinodai oleh arogansi senioritas
dan pengeroyokan. Tangan yang seharusnya dipakai untuk merangkul saudara, justru
dipakai untuk memukul.
Ketika Aturan Organisasi Hanya Menjadi Tulisan Mati : Krisis juga seringkali
datang dari dalam. Kita melihat bagaimana musyawarah yang seharusnya menjadi ajang
mencari mufakat, justru berakhir ricuh dan saling lempar kursi. Kita mendengar bagaimana
seorang pemimpin yang seharusnya menjadi teladan, malah melanggar aturan dasar
organisasinya sendiri demi kepentingan pribadi atau golongan kecilnya. Jabatan yang
semestinya menjadi amanah, berubah menjadi alat untuk meraih kekuasaan, dan aturan
pun hanya menjadi tulisan mati yang tak punya arti.
Ketika Panggilan Allah Kalah Penting dari Panggilan Rapat :Inilah mungkin
cermin yang paling jelas dan paling ironis. Bagaimana mungkin sebuah organisasi bisa
disebut Islami jika aktivitasnya justru menjauhkan kadernya dari kewajiban paling dasar
sebagai seorang Muslim?
Sering kita lihat, sebuah rapat penting dijadwalkan bertabrakan dengan waktu shalat
maghrib atau isya. Ketika azan berkumandang, diskusi sengit tentang strategi dakwah
atau program kerja umat justru terus berjalan tanpa jeda. Seolah-olah panggilan rapat
dari ketua lebih wajib dipenuhi daripada panggilan shalat dari Allah SWT, Sang Pemilik
organisasi dan seluruh isinya. Bagaimana kita bisa memperjuangkan nilai Islam di
masyarakat, jika tiang agama dalam diri kita sendiri sudah keropos?
Bab 2:
Mengapa Ini Terjadi?
Penyakit utama yang menggerogoti tubuh organisasi-organisasi ini adalah
ashabiyyah atau fanatisme kelompok. Sebuah kesetiaan buta pada bendera, pada jargon,
yang membuat kita memandang organisasi Islam lain bukan sebagai kawan seperjuangan,
melainkan sebagai saingan yang harus dikalahkan.
Prioritas pun terbalik. Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) yang universal
digantikan oleh ukhuwah organisasiyah (persaudaraan organisasi) yang sempit. Kita
merasa lebih bersaudara dengan kawan satu organisasi meskipun ia salah, daripada
dengan kawan beda organisasi meskipun ia benar. Inilah bibit perpecahan yang secara
tegas dilarang oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ
Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah
kamu bercerai-berai… (QS. Ali Imran: 103)
Tali Allah itu satu. Ia adalah Al-Quran, Sunnah, dan ajaran Islam yang universal.
Ketika kita lebih memilih berpegang pada tali organisasi masing-masing dan saling
menarik hingga putus, saat itulah kita telah mengabaikan perintah Allah untuk bersatu.
Bab 3: Jalan Pulang: Kembali ke Jati Diri Perjuangan
Mengkritik tanpa memberi solusi adalah sebuah kesia-siaan. Jalan untuk
memperbaiki rumah kita bersama ini harus dimulai dari pondasinya.
Pertama, Jadikan Akhlak sebagai Panglima. Kurikulum kaderisasi harus
menempatkan pembinaan Akhlakul Karimah (akhlak yang mulia) sebagai prioritas utama,
di atas segalanya. Sebelum belajar tentang strategi gerakan, seorang kader harus belajar
tentang kesabaran, kejujuran, kerendahan hati, dan cara menghormati orang yang berbeda
pendapat. Organisasi harus menjadi pabrik yang mencetak insan berakhlak, bukan
sekadar aktivis yang pandai berorasi.
Ingatlah sabda Rasulullah SAW, sang teladan kita:
مَا شَىْءٌ أَثْقَلُ فِى مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ
Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang
mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. (HR. Tirmidzi, no. 2002)
Bukan jumlah massa atau bendera, melainkan akhlak kaderlah yang akan menjadi
pemberat timbangan di akhirat kelak.
Kedua, Ubah Orientasi dari Kekuasaan menjadi Pelayanan. Energi yang habis
untuk saling sikut dan berebut pengaruh di kampus, seharusnya bisa dialihkan untuk hal
yang jauh lebih mulia: pelayanan (khidmah) kepada masyarakat. Ukuran kebesaran
sebuah organisasi bukanlah seberapa kuat pengaruhnya di internal kampus, tetapi
seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat di luar kampus. Adakan bakti sosial, buat
program mengajar untuk anak jalanan, atau galang dana untuk yang membutuhkan. Di
sanalah esensi ajaran Islam yang sesungguhnya berada.
Ketiga, Kepemimpinan yang Mengajak pada Kebaikan. Pemimpin harus menjadi
teladan utama dalam ibadah dan akhlak. Ia harus menjadi orang pertama yang berhenti
rapat ketika azan tiba, dan mengajak anggotanya untuk shalat berjamaah. Kepemimpinan
dalam Islam adalah amanah untuk melayani dan mengajak pada kebaikan, bukan hak
istimewa untuk dilayani.
Penutup:
Mengembalikan Cahaya pada Namanya
Saudaraku, para aktivis Islam kampus,
Apapun nama dan warna bendera kita, kita semua adalah saudara. Nama Islam
yang melekat pada organisasi kita adalah sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab
yang luar biasa. Jangan sampai nama yang suci ini kita kotori dengan ego, amarah, dan
ambisi duniawi kita.
Sudah saatnya kita berhenti saling memandang sebagai lawan. Mari kita rajut
kembali benang persaudaraan yang terkoyak. Mari kita kembalikan organisasi kita pada
khittah atau tujuan awalnya: menjadi wadah untuk menempa diri menjadi pribadi Muslim
yang lebih baik, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam, dimulai dari lingkungan terdekat
kita. Semoga Allah SWT melembutkan hati kita dan menyatukan kita semua di atas jalan
kebenaran.
Pondok Pesantren Darun Nun







