KETIKA AKU PULANG: ANTARA LAUT DAN LANGIT Catatan Rindu dari Tanah Perantauan

Oleh: Ahmad Fakhri Fauzan

Hari itu, 27 Mei 2026, bertepatan dengan Hari Raya Iduladha. Bagi sebagian orang, hari raya selalu menjadi momen yang paling ditunggu karena menjadi kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga. Ada yang pulang ke kampung halaman, duduk bersama di ruang tamu, menyantap hidangan khas lebaran, atau sekadar berbincang tentang banyak hal yang selama ini tidak sempat diceritakan.

Namun, hari raya kali ini terasa sedikit berbeda bagiku.

Untuk kesekian kalinya, aku kembali merayakan lebaran di tanah perantauan. Jauh dari rumah, jauh dari keluarga, dan tentu saja jauh dari suasana lebaran yang selama ini kukenal. Ada rasa sedih yang sulit dijelaskan ketika melihat orang lain berkumpul bersama keluarganya, sementara aku hanya bisa menikmati lebaran dengan suasana yang sederhana.

Tetapi, mungkin begitulah kehidupan seorang perantau. Ada saatnya kita harus menerima bahwa tidak semua hari raya bisa dirayakan di rumah. Ada kerinduan yang harus disimpan untuk sementara waktu, sembari menunggu kesempatan untuk kembali.

Meskipun begitu, Iduladha kali ini tetap memberiku pengalaman yang tidak terlupakan. Untuk pertama kalinya, aku bisa menginjakkan kaki di Masjid Istiqlal, masjid yang begitu terkenal di Indonesia dan menjadi salah satu ikon penting di Jakarta. Berada di sana pada hari raya memberikan suasana yang berbeda. Ribuan orang berkumpul untuk melaksanakan salat Iduladha. Di tengah keramaian itu, ada perasaan haru karena aku menyadari bahwa meskipun sedang jauh dari keluarga, aku tetap bisa merasakan semangat kebersamaan umat Islam.

Yang membuat momen itu semakin berkesan adalah ketika aku dapat melihat Wakil Presiden Republik Indonesia, meskipun hanya dari jarak yang cukup jauh. Selain itu, hadir pula Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Drs. Hamdan Juhannis, yang dipercaya untuk menyampaikan khutbah Iduladha.

Nama beliau sebenarnya tidak asing bagiku. Beliau dikenal sebagai seorang akademisi sekaligus penulis yang memiliki banyak karya dalam dunia pendidikan. Salah satu bukunya yang pernah kubaca adalah Melawan Takdir. Buku tersebut berisi kisah perjalanan hidup beliau yang dipadukan dengan motivasi dan berbagai pesan kehidupan. Menurutku, buku itu sangat menarik dan layak dibaca, khususnya oleh anak muda yang sedang mencari motivasi dalam menjalani kehidupan.

Namun, setelah rangkaian salat dan khutbah Iduladha selesai, kenyataan sebagai seorang mahasiswa perantauan kembali terasa. Menu makan siangku hari itu sederhana. Tidak ada hidangan lebaran yang beraneka macam. Hanya nasi, tempe, dan sayur. Sederhana sekali, bahkan mungkin jauh dari gambaran makanan yang biasanya hadir di meja makan ketika lebaran tiba.

Aku kemudian teringat suasana lebaran di kampung halaman.

Di tempatku, lebaran tidak berhenti setelah salat Id selesai. Ada sebuah tradisi yang kami kenal dengan istilah Masssiara. Tradisi ini menjadi salah satu momen yang paling kutunggu setiap kali lebaran tiba. Setelah salat Id, masyarakat akan berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya yang berada di sekitar kompleks. Tujuannya bukan sekadar bersilaturahmi, tetapi juga untuk saling memaafkan, berbincang, dan menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh masing-masing keluarga.

Dan tentu saja, bagian yang paling sulit dilupakan adalah makanannya. Biasanya, hampir setiap rumah memiliki hidangan khas masing-masing. Ada daging, ayam opor, dan berbagai macam makanan lainnya. Namun, ada satu makanan yang menurutku selalu memiliki tempat tersendiri dalam suasana lebaran, yaitu burasa’. Bentuknya memang sederhana, menyerupai nasi yang dibungkus dan berbentuk persegi panjang. Tetapi ketika disantap bersama lauk seperti daging atau ayam opor, rasanya menjadi sesuatu yang sulit digantikan.

Saat itulah aku sadar bahwa ternyata yang kurindukan dari lebaran bukan hanya makanan.

Aku merindukan rumah.

Aku merindukan suara keluarga yang saling berbincang. Aku merindukan suasana ketika berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya. Aku merindukan tawa, sapaan, dan kesederhanaan yang dulu mungkin sering kuanggap biasa. Kini, ketika semuanya hanya bisa dikenang dari kejauhan, hal-hal sederhana itu justru terasa sangat berharga.

Mungkin inilah salah satu hal yang harus dipahami oleh seorang perantau. Ketika berada jauh dari rumah, kita mulai menyadari bahwa rumah bukan hanya sebuah bangunan. Rumah adalah tempat di mana ada orang-orang yang membuat kita merasa benar-benar pulang.

Dan pada hari itu, di tengah kemeriahan Iduladha di Jakarta, untuk pertama kalinya pertanyaan itu kembali muncul dalam pikiranku: Kapan aku pulang?

Bukan sekadar pulang untuk menginjakkan kaki di tanah Sulawesi, tetapi pulang untuk kembali merasakan suasana yang selama ini hanya bisa kunikmati melalui ingatan. Mungkin suatu saat nanti aku akan kembali. Entah melewati laut dengan kapal atau menembus langit dengan pesawat. Yang pasti, ada satu tempat yang selalu kutuju ketika rindu sudah tidak lagi bisa ditahan:

Rumah.

Author

satu Respon

  1. Wowww keren, sangat detail dan sesuai dengan apa yang dirasakan para perantau. Semangat teruss untuk mencari ilmu di tanah rantau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp