Kyai D. Zawawi Imron: Sang Celurit Emas

Oleh Ifan Rohmatullah

Di balik syairnya yang tajam dan sarat makna, Kyai D. Zawawi Imron adalah sosok yang hidup dengan kesederhanaan dan keteguhan prinsip. Beliau Pernah menolak diberikan gelar doktor, bukan karena menolak ilmu, tetapi karena baginya, keilmuan sejati bukan soal gelar, melainkan kesadaran dan kebermanfaatan. “Bodoh dilarang di dalam Islam,” ucapnya, menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban, bukan sekadar formalitas akademik.

Beliau lahir dari kehidupan yang penuh keterbatasan, mondok hanya 18 bulan karena kemiskinan. Namun, keterbatasan itu tidak membatasi jiwanya untuk terus belajar dan berkarya. Baginya, sejarah telah membuktikan bahwa kejayaan tidak ditentukan oleh banyaknya sarjana semata. “Tahun 1945, jumlah sarjana tidak lebih dari 100 orang, tetapi mereka bisa menyusun peraturan sebaik mungkin. Sekarang, jumlah sarjana tak terhitung, tetapi apakah keadaan semakin baik?” pertanyaannya menampar kesadaran kita.

Puisi baginya bukan sekadar kumpulan kata, tetapi nafas kehidupan. “Puisi sekarang kehilangan ekspresi,” katanya prihatin. Padahal, puisi yang sejati adalah yang “sedikit kata tetapi meraup banyak makna.” Ia percaya bahwa setiap tulisan seharusnya mencerminkan kesadaran dan tanggung jawab, sebagaimana tugas besar yang kita emban: “Jangan sampai ibu bapak gagal melahirkan kita.”

Kyai Zawawi Imron bukan hanya penyair, tetapi penjaga nilai-nilai luhur. Sosoknya mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan pulang menuju Allah, dan tugas kita adalah mengisinya dengan makna, bukan sekadar gelar atau jabatan.

Warisan kebijaksanaan ini akan selalu hidup, selayaknya celurit emas yang tetap tajam mengiris kesadaran umat.

 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp