Learned Helplessness di Ruang Kelas dan Dunia Kerja: Mengapa Sebagian Orang Memilih Menyerah?

Learned Helplessness di Ruang Kelas dan Dunia Kerja: Mengapa Sebagian Orang Memilih Menyerah?

Oleh Zid-li Auliyana Luthfillah

Dalam dinamika kehidupan, manusia sering kali dihadapkan pada kegagalan dan kegagalan berulang. Namun, mengapa sebagian orang bangkit dan mencoba cara baru, sementara sebagian lainnya memilih pasrah serta berhenti berusaha meski peluang keberhasilan sudah terbuka lebar? Fenomena psikologis yang menjelaskan kondisi pasif ini dikenal sebagai Learned Helplessness (Ketidakberdayaan yang Dipelajari).

sumber gambar: https://www.online-psychology-degrees.org/study/learned-helplessness-explained/

Learned helplessness merupakan kondisi psikologis ketika seseorang merasa tidak memiliki kontrol atas situasi yang dihadapinya akibat pengalaman trauma atau kegagalan berulang di masa lalu. Individu tersebut menyimpulkan secara kognitif bahwa aksi apa pun yang diambil tidak akan mengubah hasil (independensi antara respons dan outcome). Fenomena ini menjadi salah satu landasan penting dalam memahami depresi klinis, kecemasan, hingga stagnasi akademik dan profesional.

1. Landasan Eksperimental dan Penemuan Awal

Teori ketidakberdayaan yang dipelajari pertama kali dirumuskan oleh psikolog Martin E.P. Seligman dan Steven F. Maier pada tahun 1967 di University of Pennsylvania melalui eksperimen klasik menggunakan desain triad pada objek hewan. Subjek dibagi menjadi tiga kelompok yang diberi kejutan listrik, di mana kelompok kontrol tidak menerima kejutan, kelompok escapable shock dapat menghentikan kejutan dengan menekan panel, dan kelompok inescapable shock menerima durasi kejutan yang sama tanpa memiliki kendali untuk menghentikannya.

Pada fase kedua, seluruh kelompok ditempatkan di dalam kotak bersekat (shuttle box) untuk menguji kemampuan mereka melompati rintangan demi menghindari kejutan. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok kontrol dan kelompok escapable shock dengan cepat belajar melompati rintangan, sementara kelompok inescapable shock justru memilih untuk berbaring dan menerima kejutan listrik tanpa mencoba melompat meskipun jalan keluar berada tepat di depan mereka.

Eksperimen ini membuktikan bahwa bukan rasa sakit (pain) yang menyebabkan ketidakberdayaan, melainkan persepsi hilangnya kontrol (uncontrollability).

2. Replikasi pada Manusia dan Reformulasi Teori

Eksperimen dasar tersebut diperluas pada tahun 1974 ketika Donald S. Hiroto mereplikasi penelitian serupa pada manusia menggunakan stimulasi suara bising, di mana subjek yang sebelumnya tidak memiliki kendali atas suara bising tersebut cenderung menunjukkan pasivitas pada fase pengujian berikutnya, mengonfirmasi bahwa pola ini berlaku lintas spesies.

Perkembangan teori ini semakin mendalam pada tahun 1978 ketika Lyn Y. Abramson, Martin Seligman, dan John D. Teasdale merumuskan kembali konsep tersebut melalui pendekatan kognitif yang dinamakan gaya atribusi (attributional style). Mereka menjelaskan bahwa dampak learned helplessness pada manusia sangat dipengaruhi oleh bagaimana seseorang menjelaskan penyebab kegagalan kepada dirinya sendiri melalui tiga dimensi utama.

Dimensi pertama adalah internal versus eksternal, di mana menyalahkan kualitas diri sendiri alih-alih faktor luar akan memperparah penurunan harga diri. Dimensi kedua adalah stabil versus tidak stabil, yang menyangkut anggapan apakah masalah bersifat permanen atau hanya sementara. Dimensi ketiga adalah global versus spesifik, yaitu kecenderungan menggeneralisasi kegagalan ke seluruh aspek kehidupan atau membatasinya hanya pada konteks tertentu. Individu yang memadukan gaya atribusi internal, stabil, dan global memiliki kerentanan paling tinggi terhadap learned helplessness dan risiko depresi mayor.

  • Internal vs Eksternal: Apabila seseorang menyalahkan kualitas dirinya (“Saya memang tidak berbakat”) daripada faktor luar (“Soal ujiannya memang sulit”), tingkat penurunan harga diri akan jauh lebih besar.

  • Stabil vs Tidak Stabil: Menganggap penyebab masalah bersifat permanen (“Saya tidak akan pernah bisa”) daripada sementara (“Saya belum cukup persiapan kali ini”).

  • Global vs Spesifik: Menggeneralisasi kegagalan ke seluruh aspek kehidupan (“Saya seorang kegagalan”) daripada membatasinya pada konteks tertentu (“Saya gagal di ujian matematika ini”).

Individu yang memadukan gaya atribusi Internal, Stabil, dan Global memiliki kerentanan paling tinggi terhadap learned helplessness dan depresi mayor.

3. Manifestasi dalam Kehidupan Realistis

Fenomena ketidakberdayaan yang dipelajari tidak hanya berhenti di ruang laboratorium, melainkan tercermin secara nyata dalam berbagai ranah kehidupan sosial dan psikologis sehari-hari. Di bidang pendidikan dan akademik, siswa yang berulang kali mendapatkan nilai buruk pada mata pelajaran tertentu sering kali mengembangkan keyakinan keliru bahwa mereka bodoh di bidang tersebut, sehingga mereka memilih berhenti belajar karena merasa hasilnya akan tetap sama.

Dalam ranah hubungan interpersonal dan kekerasan domestik, korban sering kali bertahan dalam hubungan yang merusak karena upaya mereka untuk melawan atau keluar di masa lalu selalu gagal atau dibalas dengan eskalasi ancaman yang lebih besar.

Begitu pula dalam dinamika organisasi dan dunia kerja, lingkungan kantor yang otoriter dan selalu menolak masukan dapat memicu pasivitas karyawan, membuat mereka masuk ke mode kerja minimal atau membatasi diri pada rutinitas tanpa inovasi karena merasa inisiatif mereka tidak pernah dihargai.

4. Perspektif Neurosains dan Upaya Intervensi

Studi neurosains modern yang dilakukan oleh Steven F. Maier dan Martin Seligman pada tahun 2016 mengungkapkan revisi penting atas pemahaman awal mengenai fenomena ini. Temuan mutakhir menunjukkan bahwa pasivitas saat menghadapi tekanan bukanlah perilaku yang murni dipelajari, melainkan respons bawaan atau default response dari mamalia yang dikendalikan oleh bagian otak dorsal raphe nucleus (DRN). Sebaliknya, proses yang sebenarnya dipelajari oleh otak adalah kemampuan mengontrol diri atau learned control, yang dimediasi oleh medial prefrontal cortex (mPFC) untuk menekan respons pasif tersebut.

Untuk mengatasi siklus ketidakberdayaan ini, beberapa metode intervensi terbukti efektif meliputi penerapan Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behavioral Therapy) guna membantu mengidentifikasi distorsi kognitif serta merestrukturisasi gaya atribusi pesimistik menjadi realistis, melatih learned optimism melalui pelacakan keberhasilan-keberhasilan kecil untuk memulihkan efikasi diri, serta melakukan pembingkaian ulang kegagalan agar dipandang sebagai umpan balik strategis alih-alih batas akhir dari kemampuan diri.

Kesimpulan

Learned helplessness menunjukkan betapa besarnya pengaruh persepsi kognitif terhadap tindakan manusia. Kebuntuan dan rasa pasrah sering kali bukan disebabkan oleh ketiadaan jalan keluar, melainkan oleh keyakinan yang terbentuk di masa lalu bahwa usaha tidak lagi memiliki arti. Dengan memahami mekanisme psikologis dan neurosains di baliknya, individu maupun institusi dapat merancang pola intervensi yang tepat—membangun kembali rasa kontrol dan efikasi diri untuk keluar dari siklus pasivitas.

Referensi & Sumber Data Akademik

Seligman, M. E. P., & Maier, S. F. (1967). Failure to escape traumatic shock. Journal of Experimental Psychology, 74(1), https://ppc.sas.upenn.edu/sites/default/files/lhtheoryevidence.pdf

Maier, S. F., & Seligman, M. E. P. (1976). Learned helplessness: Theory and evidence. Journal of Experimental Psychology: General, 105(1), 3–46. https://psycnet.apa.org/record/1976-20159-001

Abramson, L. Y., Seligman, M. E. P., & Teasdale, J. D. (1978). Learned helplessness in humans: Critique and reformation. Journal of Abnormal Psychology, 87(1), 49–74.  https://seattleanxiety.com/theory-of-learned-helplessness

Maier, S. F., & Seligman, M. E. P. (2016). Learned helplessness at fifty: Insights from neuroscience. Psychological Review, 123(4), 349–367. https://www.simplypsychology.org/learned-helplessness.html

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp

Berita & Karya Terbaru