MAKSIAT PUDARNYA KECERDASAN DAN ILMU
Oleh: Dimas Indra Pratama
Kecerdasan dan ilmu pengetahuan merupakan dua hal yang menjadi fondasi penting bagi kemajuan manusia. Namun, dalam perjalanan mencapai keduanya, sering kali manusia dihadapkan pada berbagai hambatan. Salah satu ancaman yang sering diabaikan namun memiliki dampak besar adalah maksiat. Maksiat itu bagi penuntut ilmu terutama bagi anak muda, mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan suka, atau tidak, jika memilih untuk tetap bermaksiat ilmu itu akan memudar atau terkikis dan bisa menjadi habis.
Imam syafi’I pernah berkata ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku orang yang bermaksiat. Maksiat itu tidak hanya memudarkan ilmu bahkan bagi seorang yang mencari ilmu karena sering melakukan maksiat, bersemangat untuk mencari ilmu saja tidak. Berangkat terasa berat menuju kajian, keinginannya terhadap ilmu semakin pudar, sebab itu semua adalah maksiat apa yang sering dilakukan, bahkan sampai istiqamah.
Maksiat mempudarnya kepekaan seseorang terhadap kebaikan dan kebenaran. Ketika pikiran dikuasai oleh hawa nafsu, seseorang akan sulit untuk berpikiran jernih. Teruntuk penuntut ilmu selalu ada nasehat bahwa “Ilmu dan maksiat tidak bisa berjalan beriringan, maksiat memakan ilmu hingga habis”. Kemampuan untuk menganalisis, memahami, dan menyerap ilmu menjadi berkurang dan semakin memudar.
Saya mengutip lagi perkataan Imam Syafi’i yang menjadi motivasi bagi kita semua yang berbunyi: “Aku mengeluh kepada guruku, Waki’, tentang lemahnya hafalanku. Dia menasihatiku untuk meninggalkan maksiat, karena ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada ahli maksiat.” Kutipan ini menggambarkan bahwa ilmu adalah cahaya, suatu anugerah yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang menjaga kesucian hati dan perbuatan. Ketika seseorang melakukan maksiat, cahaya ini akan meredup dan membuatnya sulit untuk memahami atau mengingat ilmu yang telah dipelajari. Selain itu, maksiat juga dapat memutus hubungan spiritual seseorang dengan Sang Pencipta. Dalam Islam, misalnya, salah satu syarat untuk mendapatkan keberkahan ilmu adalah dengan menjaga ketaatan kepada Allah. Ketika ketaatan ini terganggu oleh maksiat, keberkahan ilmu pun akan hilang.
Orang yang sering melakukan maksiat cenderung merasa bersalah atau memiliki perasaan rendah diri. Ini dapat menghambat motivasi untuk belajar dan berkembang. Rasa bersalah yang terus-menerus juga dapat menimbulkan stres, yang pada akhirnya mengganggu kemampuan otak dalam berpikir. Maksiat sering kali membawa seseorang pada pola hidup yang tidak disiplin. Ketidakteraturan ini dapat menyebabkan hilangnya motivasi untuk mencapai tujuan, termasuk dalam hal pendidikan dalam menuntut ilmu.
Banyaknya maksiat, terutama dikalangan anak muda yang sedang mencari ilmu, membuat ilmu yang mereka pelajari tidak lagi diterapkan, itulah yang menyebabkan banyak yang sedang terjadi sekarang, ada anak penghafal Al-Qur’an tetapi berpacaran, penghafal Al-Qur’an berbuat zina, dan banyak pembelajar agar tetapi penuh dengan maksiat. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan azab dengan ampunannya.








satu Respon
🔥🔥🔥