Mati yen dipangku: Pangkon Kalelegguhan

 

Mati yen dipangku: Pangkon Kalelegguhan

Moh. Rizal

 

Kebudayaan Jawa kaya akan simbol-simbol yang mengajarkan kita tentang nilai-nilai dalam kehidupan, mulai dari bahasa, aksara/penulisan, tembang, dan sebagainya. Di dalam tulisan atau aksara Jawa, terdapat berbagai filosofi yang mendalam, aksara-aksara ini bukan sekadar huruf, tetapi juga sarana untuk menyampaikan nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun, diantaranya yang mengajarkan keseimbangan antara lahir dan batin, serta pentingnya menjaga harmoni dalam kehidupan. Sebagaimana penggunaan tanda pangkon () yang secara tersirat melambangkan pengendalian diri dan kesederhanaan.

Pangkon () dalam aksara Jawa adalah salah satu tanda baca yang memiliki peran penting dalam struktur penulisan aksara Jawa. Tanda ini digunakan untuk mematikan atau menghilangkan bunyi vokal dari suatu huruf, sehingga huruf tersebut hanya mengeluarkan bunyi konsonan tanpa diikuti oleh bunyi vokal. Misalnya saja dalam aksara Jawa, huruf “ka” () biasanya memiliki bunyi “ka/ko”, namun, ketika diberi tanda pangkon, huruf tersebut berubah menjadi “k” (ꦏ꧀), di mana bunyi “a” dihilangkan, menyisakan bunyi konsonan “k” saja. 

Pangkon ini tidak hanya memiliki tujuan fonetis saja, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mendalam dalam budaya Jawa. Pangkon atau bisa diartikan pangku, dalam bentuknya saja pangkon merupakan tanda baca yang menyerupai kursi tempat duduk atau tempat memangku, dalam penulisannya pangkon juga diibaratkan seperti memangku aksara lain. Semua huruf dalam aksara Jawa jika “dipangku” maka akan mati dan akan berubah makna dan artinya. Huruf vokal bersifat hidup sedangkan huruf konsonan bersifat mati. Dari sini kemudian muncul “filosofi” Jawa tentang “mati yen dipangku” atau “yang dipangku akan mati”. Kematian di sini bukan berarti terpisahnya ruh dengan raga, namun dalam budaya yang berkembang dapat diartikan dengan matinya ke-tokohan seseorang. Pangkon setiap orang bisa berbeda, tergantung kondisinya, dalam beberapa sumber terdapat 10 pangkon yang akan berpengaruh dan dapat merubah kehidupan manusia, diantaranya adalah jabatan (kalengguhan), uang, barang, kemareman (kepuasan), kolodangan (longgar), pangan (makanan), aleman (ingin mencari perhatian), utang (hutang), tren, dan idola. 

Pangkon Kalelengguhan (Jabatan)

Menarik untuk membahas istilah jawa “mati yen dipangku”, dalam kebudayaan jawa istilah kemudian dianggap menjadi salah satu bagian dari strategi kepemimpinan Jawa. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah melihat seseorang yang dulu sangat vokal dalam mengkritik pemerintah, namun setelah mendapatkan jabatan, ia menjadi pendiam. Dalam hal ini, jabatan atau posisi yang dipegangnya menjadi semacam “pangkon” yang mengendalikan sikapnya. Ada juga orang yang dulunya memiliki pemahaman agama yang baik, tetapi setelah memiliki jabatan, sifatnya berubah menjadi buruk. Ini menunjukkan bahwa kelemahannya terletak pada pangkat/jabatan yang ia pegang. Jika seseorang tidak cukup kuat, jabatan tersebut bisa mematikan sifat baiknya, yang kemudian digantikan oleh sifat buruk. Berbda bagi orang yang sudah matang dan memiliki kendali atas dirinya, jabatan tidak lagi akan mematikan sifat baiknya, justru akan memperkuatnya. Segingga bagi orang seperti ini, jabatan hanyalah sebagai alat, bukan menjadi tujuan hidup.

Sehingga kepemimpinan semacam ini agaknya cukup relevan dengan apa yang sekarang ini terjadi di negara kita, istilah “Raja Jawa” yang sedang hangat ini dibahas bukan secara harfiah dimaknai sebagai Raja Kerajaan yang berada di Tanah Jawa, melainkan adalah strategi dan manajemen kepemimpinan yang dipakai. Kita dapat menyaksikan sendiri bagaimana sikap orang-orang yang dulunya berada dalam satu gerbong bersama “Raja Jawa”, dengan sekarang ini yang sudah berbeda barisan akan sangat terlihat perbedaannya, 180 derajat berbeda. Dulunya secara getol membela, lalu sekarang ini karena sudah berbeda barisaan mengkuliti habis-habisan. Ataupun sebaliknnya jika saat menjadi pemimpin ada orang yang dianggap sebagai ancaman, bahkan musuh, kemudian didekati, rangkul dan kalau perlu diberi kedudukan atau jabatan yang layak sehingga akan merasa berhutang budi, dan dengan begitu niscaya akan mendukung sang pemimpin.

Tentunya tidak semua yang diberi jabatan akan dibelenggu, dibatasi atau “dipangku mati”, tidak dapat bergerak sebagaimana sebelum mendapatkan jabatan. Hanya orang-orang baik yang sudah matang dan memegang kendali penuh atas dirinya yang tidak akan terpengaruh atas jabatan yang diberikan, sekalipun itu harus rela kehilangan. Semoga tulisan ini menjadi manfaat. 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp