Menepi dari Doamu

Oleh Muflikhah Ulya

Jika niatku kau tafsirkan prasangka,

dan baktiku kau cap dusta,

maka biarlah hatimu menjadi mahkamah cinta.

Sebab bahkan helaan nafasku

 

pun tak layak menyentuh kesucianmu.

Maka layaklah aku menjadi tuli dan bisu,

menepi dari gema megah namamu,

jika itu mampu menghadirkan damai bagimu.

 

Jika bakti kecilku kau anggap dosa,

dan tuturku kau nilai pendusta,

maka biarlah neraka menjadi rumahku saja.

Sebab di matamu aku hanyalah bayang kelam,

 

maka izinkan aku tenggelam dalam suram,

agar duniamu tetap tenteram di balik malam.

 

Maafkan manusia bodoh berlumur dosa,

hina di hadapan-Mu,

yang hanya pandai meretakkan hening semestamu.

Jika langkahku menoreh luka di lembar kisahmu,

 

hapuslah aku dalam kehardikan waktu.

Biarlah kepergianku menjelma desir paling pilu,

berlalu tanpa nama,

seolah tak pernah ada “aku.”

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp