Oleh: Ira Safira
Dikisahkan
di tanah Jawa khususnya di kerjaan Blambangan yang dipimpin oleh Prabu Menak
Sembayu diserang oleh suatu wabah penyakit. Berhari – hari wabah penyakit
semakin menjadi – jadi rakyat banyak yang mati bahkan putri sang raja ikut
terkena wabah penyakit dan belum ada tabib yang dapat menyebuhkan penyakit sang
putri Dewi Sekardadu. Kerjaan semakin diruding kesedihan.
di tanah Jawa khususnya di kerjaan Blambangan yang dipimpin oleh Prabu Menak
Sembayu diserang oleh suatu wabah penyakit. Berhari – hari wabah penyakit
semakin menjadi – jadi rakyat banyak yang mati bahkan putri sang raja ikut
terkena wabah penyakit dan belum ada tabib yang dapat menyebuhkan penyakit sang
putri Dewi Sekardadu. Kerjaan semakin diruding kesedihan.
Hingga
suatu hari raja mengumumkan sebuah sayembara yang isinya siapapun yang dapat
menyebuhkan putrinya maka ia akan dijodohkan dengan sang putri jika laki – laki dan jika perempuan maka dia akan
diangkat sebagai saudara dari putri. Setelah sayembara tersebar diberbagai
pelosok kerajaan tidak ada satu pun rakyat yang berani mengikuti sayembara. Hal
ini terdengar sampai seorang Brahmana Resi Kandaya. Brahmana tersebut akhirnya
mendatangi kerajaan untuk bertemu dengan raja dan memberi tahukan bahwa ada
seorang yang mampu menyebuhkan wabah penyakit tersebut seorang pertapa yang
bernama Maulana Ishaq yang berada di gunung Gresik. Beliau adalah seorang
mubaligh dari Samarkand dan putra dari soerang ulama besar.
suatu hari raja mengumumkan sebuah sayembara yang isinya siapapun yang dapat
menyebuhkan putrinya maka ia akan dijodohkan dengan sang putri jika laki – laki dan jika perempuan maka dia akan
diangkat sebagai saudara dari putri. Setelah sayembara tersebar diberbagai
pelosok kerajaan tidak ada satu pun rakyat yang berani mengikuti sayembara. Hal
ini terdengar sampai seorang Brahmana Resi Kandaya. Brahmana tersebut akhirnya
mendatangi kerajaan untuk bertemu dengan raja dan memberi tahukan bahwa ada
seorang yang mampu menyebuhkan wabah penyakit tersebut seorang pertapa yang
bernama Maulana Ishaq yang berada di gunung Gresik. Beliau adalah seorang
mubaligh dari Samarkand dan putra dari soerang ulama besar.
Sang
raja akhirnya mengutus prajuritnya untuk mencari mubaligh tersebut. Sampailah
prajurit tersebut di gunung Gresik dan menemui sang mubaligh. Setelah mendengar
cerita dari prajurit Maulana Ishaq berkata: “Baiklah
aku akan memenuhi permintaan Raja kamu sekalian, karena aku tidak sampai hati
untuk mengecewakannya, tapi hal ini kulakukan bukan karena iming-iming yang
akan dijodohkan dengan Dewi Sekardadu juga bukan karena aku takut untuk dihukum
mati oleh raja kalian. Yang kulakukan adalah ikhlas semata tanpa mengharap
imbalan jasa apapun. Nah Sekarang berangkatlah kisanak sekalian terlebih
dahulu”.
raja akhirnya mengutus prajuritnya untuk mencari mubaligh tersebut. Sampailah
prajurit tersebut di gunung Gresik dan menemui sang mubaligh. Setelah mendengar
cerita dari prajurit Maulana Ishaq berkata: “Baiklah
aku akan memenuhi permintaan Raja kamu sekalian, karena aku tidak sampai hati
untuk mengecewakannya, tapi hal ini kulakukan bukan karena iming-iming yang
akan dijodohkan dengan Dewi Sekardadu juga bukan karena aku takut untuk dihukum
mati oleh raja kalian. Yang kulakukan adalah ikhlas semata tanpa mengharap
imbalan jasa apapun. Nah Sekarang berangkatlah kisanak sekalian terlebih
dahulu”.
Dalam waktu yang singkat Maulana Ishaq dapat menyebuhkan sang
putri dan raja pun tetap melaksanakan janji yang ada dalam sayembaranya yaitu
menikahkan putrinya dengan sang mubaligh. Alhasil Dewi Sekardadu menikah dengan
sang mubaligh dan memeluk agama Islam. Maulana Ishaq pun mulai menyebarkan
agama Islam di Blambangan yang pada saat itu masyarakatnya memeluk agama Hindu
– Budha dan rakyat kerajaan banyak mmberikan respon positif. Mendengar hal itu
membuat sang raja merasa terancam dan akhirnya memisahkan sang Mubaligh dengan
putrinya yang saat itu sedang mengandung tujuh bulan. Isak tangis sang putri
mengiri kepergian sang mubaligh dari tanah Blambangan. Anak yang dikandung sang
putri adalah salah seorang sunan walisongo yaitu Sunan Giri.
putri dan raja pun tetap melaksanakan janji yang ada dalam sayembaranya yaitu
menikahkan putrinya dengan sang mubaligh. Alhasil Dewi Sekardadu menikah dengan
sang mubaligh dan memeluk agama Islam. Maulana Ishaq pun mulai menyebarkan
agama Islam di Blambangan yang pada saat itu masyarakatnya memeluk agama Hindu
– Budha dan rakyat kerajaan banyak mmberikan respon positif. Mendengar hal itu
membuat sang raja merasa terancam dan akhirnya memisahkan sang Mubaligh dengan
putrinya yang saat itu sedang mengandung tujuh bulan. Isak tangis sang putri
mengiri kepergian sang mubaligh dari tanah Blambangan. Anak yang dikandung sang
putri adalah salah seorang sunan walisongo yaitu Sunan Giri.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







