Oleh Dyah Ayu Fitriana @fitriyesss
Sudahkah kita memahami apa bedanya pendidikan formal,
nonformal dan informal? Barangkali ada yang bergumam sambil hendak menutup
laman tulisan ini “Memang apa pentingnya tahu hal itu, kan hanya istilah saja
toh? Yang terpenting kita dapat mempraktikkannya atau tidak.” Yup memang benar,
akan tetapi pemahaman kita terhadap sesuatu akan merubah cara pandang dan
respon kita terhadap hal tersebut. Baiklah bagi yang ingin belajar mari kita
mulai.
nonformal dan informal? Barangkali ada yang bergumam sambil hendak menutup
laman tulisan ini “Memang apa pentingnya tahu hal itu, kan hanya istilah saja
toh? Yang terpenting kita dapat mempraktikkannya atau tidak.” Yup memang benar,
akan tetapi pemahaman kita terhadap sesuatu akan merubah cara pandang dan
respon kita terhadap hal tersebut. Baiklah bagi yang ingin belajar mari kita
mulai.
Seperti yang sudah kita ketahui dan lalui selama
bertahun-tahun lamanya, berlaku juga untuk adik, kakak dan anak kita, kita
semua melewati jenjang pendidikan formal. Dulu saat saya masih kecil, pendidikan
formal dimulai dari Taman Kanak-Kanak, masa awal perkembangan aspek kognitif,
motoric, sosial emosional dan kesenian. Akan tetapi saat ini pendidikan formal
yang paling awal sebelum TK yakni Pendidikan Anak Usia Dini yang nantinya akan
menjadi pengantar anak untuk siap bersekolah. Setelah TK seperti yang sudah
kita hafal bersama, ada Pendidikan Sekolah Dasar, Pendidikan Sekolah Menengah
Pertama, Sekolah Menengah Atas, sampai dengan Perguruan Tinggi dengan berbagai
stratanya.
bertahun-tahun lamanya, berlaku juga untuk adik, kakak dan anak kita, kita
semua melewati jenjang pendidikan formal. Dulu saat saya masih kecil, pendidikan
formal dimulai dari Taman Kanak-Kanak, masa awal perkembangan aspek kognitif,
motoric, sosial emosional dan kesenian. Akan tetapi saat ini pendidikan formal
yang paling awal sebelum TK yakni Pendidikan Anak Usia Dini yang nantinya akan
menjadi pengantar anak untuk siap bersekolah. Setelah TK seperti yang sudah
kita hafal bersama, ada Pendidikan Sekolah Dasar, Pendidikan Sekolah Menengah
Pertama, Sekolah Menengah Atas, sampai dengan Perguruan Tinggi dengan berbagai
stratanya.
Pendidikan formal ini diciptakan oleh pemerintah untuk
melayani pembelajaran minimal sebagai bekal semua warga Negara. Sayangnya
banyak orang yang mengukur kemampouan hanya lewat pendidikan formal, sedangkan
pendidikan formal di Indonesia masih terbilang sangat general dan kognitis.
Nilai masih terukur dari seberapa kecerdasan kognitif yang dikuasai oleh anak,
meski beberapa sekolah sudah mulai memperhatikan telenta-talenta istimewa dari
muridnya tetapi sekolah formal masih belum sanggup memberikan pelayanan yang
maksimal. Sekolah formal masih belum bisa benar-benar menemukan bakat-bakat
dari siswa, apalagi untuk mengembangkannya. Adanya ekstrakurikuler mungkin
membantu tapi tentu porsinya hanya beberapa persen saja dan masih belum digarap
betul untuk memaksimalkan kualitas capaiannya. Penyanyi, pelukis, pebisnis dan
talenta yang dimiliki oleh seseorang masih sangat tergantung dari pengetahuan
orang tua, kesiapan orang tua untuk membawanya ke tempat kursus atau dengan
cara keberuntungan seperti yang saat ini banyak kita temui lahirnya orang orang
hebat dari ajang pencarian bakat maupun viral dari internet.
melayani pembelajaran minimal sebagai bekal semua warga Negara. Sayangnya
banyak orang yang mengukur kemampouan hanya lewat pendidikan formal, sedangkan
pendidikan formal di Indonesia masih terbilang sangat general dan kognitis.
Nilai masih terukur dari seberapa kecerdasan kognitif yang dikuasai oleh anak,
meski beberapa sekolah sudah mulai memperhatikan telenta-talenta istimewa dari
muridnya tetapi sekolah formal masih belum sanggup memberikan pelayanan yang
maksimal. Sekolah formal masih belum bisa benar-benar menemukan bakat-bakat
dari siswa, apalagi untuk mengembangkannya. Adanya ekstrakurikuler mungkin
membantu tapi tentu porsinya hanya beberapa persen saja dan masih belum digarap
betul untuk memaksimalkan kualitas capaiannya. Penyanyi, pelukis, pebisnis dan
talenta yang dimiliki oleh seseorang masih sangat tergantung dari pengetahuan
orang tua, kesiapan orang tua untuk membawanya ke tempat kursus atau dengan
cara keberuntungan seperti yang saat ini banyak kita temui lahirnya orang orang
hebat dari ajang pencarian bakat maupun viral dari internet.
Teman saya
gus Ainur pernah bertanya, apakah bersekolah berkuliah sudah otomatis dinamakan
belajar? Ternyat belum tentu. Banyak mahasiswa yang datang sekedarnya saja ke
dalam kelas, menghabiskan waktu untuk alih-alih memerhatikan dengan seksama
penjelasan dosen, malah sibuk scrooling media sosial di HP nya. Apakah kegiatan
tersebut masih dapat dikategorikan dengan belajar yang dalam terminologinya
diartikan sebagai ‘Usaha Sadar’ untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. Jika proses
memasuki kelas itu tidak ada “usaha sadar” apakah bisa kita sebut belajar? Maka
dari itu pendidikan formal bukan satu-satunya jalan untuk belajar.
gus Ainur pernah bertanya, apakah bersekolah berkuliah sudah otomatis dinamakan
belajar? Ternyat belum tentu. Banyak mahasiswa yang datang sekedarnya saja ke
dalam kelas, menghabiskan waktu untuk alih-alih memerhatikan dengan seksama
penjelasan dosen, malah sibuk scrooling media sosial di HP nya. Apakah kegiatan
tersebut masih dapat dikategorikan dengan belajar yang dalam terminologinya
diartikan sebagai ‘Usaha Sadar’ untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. Jika proses
memasuki kelas itu tidak ada “usaha sadar” apakah bisa kita sebut belajar? Maka
dari itu pendidikan formal bukan satu-satunya jalan untuk belajar.
Kemudian pendidikan informal, apakah itu? Pendidikan informal
ini termasuk hidden education, pembelajaran tanpa ruang kelas dan
kurikulum yang terstruktur. Pendidikan informal dimulai dari rumah, orang tua
sebagai pendidiknya tentu saja. Saat anak mengalami masa perkembangan dari bayi
kemudian balita lalu remaja dan seterusnya, saat itu pendidikan yang ia dapat
di rumah memiliki peranan yang tidak kalah penting. Rata-rata kesiapan anak untuk
sekolah, bagaimana sikapnya terhadap dirinya sendiri atau orang lain, sangat
dipengaruhi oleh kondisinya di rumah. Katakanlah anak TK yang tidak mampu
berkomunikasi dengan orang lain, bisajadi karena di rumah orang tuanya tidak
sering mengajaknya berkomunikasi, tidak mengenalkan pada orang lain selain di
rumah. Anak yang mau menang sendiri ketika sekolah, bisajadi karena di rumah
semua keinginannya selalu dituruti tanpa memberikan pengertian bahwa tidak
semua hal bisa menjadi miliknya sendriri, berbagi itu penting.
ini termasuk hidden education, pembelajaran tanpa ruang kelas dan
kurikulum yang terstruktur. Pendidikan informal dimulai dari rumah, orang tua
sebagai pendidiknya tentu saja. Saat anak mengalami masa perkembangan dari bayi
kemudian balita lalu remaja dan seterusnya, saat itu pendidikan yang ia dapat
di rumah memiliki peranan yang tidak kalah penting. Rata-rata kesiapan anak untuk
sekolah, bagaimana sikapnya terhadap dirinya sendiri atau orang lain, sangat
dipengaruhi oleh kondisinya di rumah. Katakanlah anak TK yang tidak mampu
berkomunikasi dengan orang lain, bisajadi karena di rumah orang tuanya tidak
sering mengajaknya berkomunikasi, tidak mengenalkan pada orang lain selain di
rumah. Anak yang mau menang sendiri ketika sekolah, bisajadi karena di rumah
semua keinginannya selalu dituruti tanpa memberikan pengertian bahwa tidak
semua hal bisa menjadi miliknya sendriri, berbagi itu penting.
Pendidikan
informal ini yang masih sangat terabaikan. Orang tua terutama yang menikah
muda, masih belum memahami apa yang harus ditanamkan sebagai awal mula kepada
anak yang nantinya akan menjadi karakternya ketika dewasa. Untuk itu penting
kiranya bagi orang tua untuk selalu mau belajar terutama tentang pendidikan
parenting demi masa depan sang anak. Tidak hanya pendidikan dalam rumah, dalam
perkembangannya pendidikan yang ia dapat saat berorganisasi, bermasyarakat juga
merupakan bentuk dari pendidikan informal. Maka kesuksesan anak di pendidikan
formal biasanya bukan semata hasil jerih payah guru dan sekolah, akan tetapi
akumulasi dari perjuangan orang tua maupun kondisi lingkungan yang mendukung. Sebaliknya,
hal-hal buruk yang tertanam pada anak tidak serta merta dilimpahkan kepada guru
sebagai pendidik, orang tua dan masyarakat tetap menjadi kunci utama.
informal ini yang masih sangat terabaikan. Orang tua terutama yang menikah
muda, masih belum memahami apa yang harus ditanamkan sebagai awal mula kepada
anak yang nantinya akan menjadi karakternya ketika dewasa. Untuk itu penting
kiranya bagi orang tua untuk selalu mau belajar terutama tentang pendidikan
parenting demi masa depan sang anak. Tidak hanya pendidikan dalam rumah, dalam
perkembangannya pendidikan yang ia dapat saat berorganisasi, bermasyarakat juga
merupakan bentuk dari pendidikan informal. Maka kesuksesan anak di pendidikan
formal biasanya bukan semata hasil jerih payah guru dan sekolah, akan tetapi
akumulasi dari perjuangan orang tua maupun kondisi lingkungan yang mendukung. Sebaliknya,
hal-hal buruk yang tertanam pada anak tidak serta merta dilimpahkan kepada guru
sebagai pendidik, orang tua dan masyarakat tetap menjadi kunci utama.
Ketiga,
pendidikan Non-formal. Pendidikan ini adalah yang masih menggunakan ruang-ruang
kelas baik itu secara langsung maupun virtual. Meliputi hal ini seperti kursus,
pendidikan pesantren, pelatihan, sertifikasi, pembelajaran online yang tidak
masuk dalam kurikulum pendidikan formal. Di dunia kerja saat ini tidak hanya
penguasaan dan pencapaian dari pendidikan formal saja yang menjadi
pertimbangan, penguasaan skill, kecakapan attitude juga akan menjadi hal yang
dipertimbangkan. Pendidikan non formal dengan segala bentuknya menjadi
pelengkap dari pendidikan formal tanpa harus meninggalkannya. Seperti
pendidikan pesantren yang hadir dengan pembelajaran agama dan pembentukan
karakter yang baik “akhlakul karimah”, sertifikasi-sertifikasi yang
menawarkan pembelajaran bergelar yang tidak ada di bangku formal, selain itu
kursus, maupun pembelajaran online yang saat ini sudah menjamur dan dapat
diikuti oleh semua orang di penjuru dunia merupakan inovasi pendidikan
nonformal yang perlu disambut dengan suka cita dan tentu dengan cara
memanfaatkannya untuk diikuti.
pendidikan Non-formal. Pendidikan ini adalah yang masih menggunakan ruang-ruang
kelas baik itu secara langsung maupun virtual. Meliputi hal ini seperti kursus,
pendidikan pesantren, pelatihan, sertifikasi, pembelajaran online yang tidak
masuk dalam kurikulum pendidikan formal. Di dunia kerja saat ini tidak hanya
penguasaan dan pencapaian dari pendidikan formal saja yang menjadi
pertimbangan, penguasaan skill, kecakapan attitude juga akan menjadi hal yang
dipertimbangkan. Pendidikan non formal dengan segala bentuknya menjadi
pelengkap dari pendidikan formal tanpa harus meninggalkannya. Seperti
pendidikan pesantren yang hadir dengan pembelajaran agama dan pembentukan
karakter yang baik “akhlakul karimah”, sertifikasi-sertifikasi yang
menawarkan pembelajaran bergelar yang tidak ada di bangku formal, selain itu
kursus, maupun pembelajaran online yang saat ini sudah menjamur dan dapat
diikuti oleh semua orang di penjuru dunia merupakan inovasi pendidikan
nonformal yang perlu disambut dengan suka cita dan tentu dengan cara
memanfaatkannya untuk diikuti.
Ketiga jenis pendidikan tersebut merupakan
hal yang penting untuk diperhatikan. Sebagai orang tua alangkah baiknya mau
untuk belajar demi memaksimalkan peran pendidikan informal anak di rumah.
Sebagai pendidik memaksimalkan peran pendidikan formal dan tentunya kita terus
berperan sebagai pembelajar yang harus terus mengupgrade pengetahuan
hal yang penting untuk diperhatikan. Sebagai orang tua alangkah baiknya mau
untuk belajar demi memaksimalkan peran pendidikan informal anak di rumah.
Sebagai pendidik memaksimalkan peran pendidikan formal dan tentunya kita terus
berperan sebagai pembelajar yang harus terus mengupgrade pengetahuan
Selamat menyelam ke dalam lautan ilmu. .
Pondok Pesantren Darun Nun Malang








