Santri Berbudaya dan Wisata Halal Sebagai Jalan Dakwah

Santri Berbudaya dan Wisata Halal Sebagai Jalan Dakwah

Oleh : Syabrina Wahyuni

Santri Berbudaya – Keindahan alam dan kekayaan budaya Indonesia merupakan dua kekuatan penting dalam membangun citra bangsa sebagai destinasi wisata utama di dunia. Sayangnya arus modernisasi seringkali mengancam kelestarian budaya lokal dan nilai-nilai spiritual. Di tengah geliat industri wisata, lahirlah konsep pariwisata halal yakni sistem pariwisata yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip syariah, mulai dari layanan konsumsi halal, akomodasi, hingga pengalaman spiritual yang memperkuat keimanan. Pariwisata halal bukan sekadar trend, melainkan kebutuhan global, dan Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpinnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dapat diketahui total seluruh kunjungan wisatawan mancanegara sampai akhir bulan Mei 2025 terhitung mencapai angka 1.306.000. Sedangkan total kunjungan khusus wilayah ASEAN sampai akhir bulan Mei 2025 sejumlah 466.712.  Hal ini menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara meningkat setiap bulannya. Belum lagi, pertumbuhan jumlah penduduk muslim ke depannya akan turut mempengaruhi permintaan penyebaran konsep pariwisata halal. Maka demikian, salah satu strategi bijaksana yang dapat dikembangkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah dengan menggalakkan pariwisata halal.

Sebagai generasi penjaga nilai-nilai agama sekaligus bagian dari budaya lokal, santri dapat menjadi pelopor pariwisata halal berbasis pesantren dan kearifan lokal. Bentuk akulturasi tersebut berupa hadrah, rebana, gamelan, pencak silat, hingga kuliner khas daerah. Nilai-nilai ini selaras dengan prinsip pariwisata halal yang tidak hanya menekankan aspek religi, tetapi juga keindahan dan edukasi budaya yang santun. Melalui pendekatan ini, santri bisa menjadikan wisata sebagai sarana dakwah dan pemberdayaan masyarakat.

Namun, tantangan yang dihadapi antara lain kurangnya pemahaman santri tentang konsep pariwisata halal, minimnya pelatihan kewirausahaan, serta kurangnya literasi budaya dan keterampilan promosi digital. Selain itu, sebagian santri belum menyadari bahwa pariwisata bisa menjadi bagian dari dakwah. Seharusnya ini akan menjadi peluang bagi santri karena Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus mendorong sektor wisata halal sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif nasional. Sehingga dari hal ini, santri bisa menjadi mitra strategis.

Maka dari itu untuk menjawab semua tantangan yang ada penulis menggagas program yang bernama “Santri Wisata Halal” dan “Festival Budaya Pesantren” dengan tujuan untuk mendorong kontribusi santri dalam pelestarian budaya sebagai warisan leluhur dan melatih santri menjadi pemandu wisata Islami dengan mengedepankan pariwisata halal sebagai sarana dakwah serta mengangkat potensi budaya lokal melalui bazar halal, seni Islam, dan produk UMKM pesantren.

Sasaran program ini adalah pondok pesantren, pelaku wisata lokal, dan masyarakat muslim secara luas. Program ini dapat disinergikan dengan Kemenparekraf, Kementerian Agama, serta pemerintah daerah untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang islami dan berkelanjutan. Harapannya program ini dapat mengedukasi dan meningkatkan kesadaran santri dalam hal melestarikan budaya serta mengembangkan pariwisata yang eksis di mata dunia.

Pondok Pesantren Darun Nun

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp