SENI PATAH HATI

Oleh : Ilman Mahbubillah

 

Jam dinding diam berdenting

Jarum berputar secara beriring

Detik yang berdetak, lalu memasung hening

Melahap semua nikmat dengan terbaring
kering

 

Kita adalah fana; yang abadi adalah luka

Janji yang menyakiti, mati di dalam baris
puisi

Membuatnya buta karena relung nestapa

Menjadikannya abadi dalam prasasti mata

 

Yang fana adalah waktu; yang abadi adalah
perasaanku

Temaram lampu lenyapkan lara sebab
kepergianmu

Kau datang dengan rindu dan berjuta kata
maafmu

Bodoh! Sekali lagi logikaku selalu
dikuasai enigmamu

 

“Dukamu Abadi”

Begitulah kata Sapardi

Kali ini, ingin kucoba berdamai dengan
kata sendiri

Bermalam dengan sepi; tuk menjalani seni
patah hati

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp

Berita & Karya Terbaru