
Madura
Oleh: Zahriyatun Nafiah Langitmu begitu mulia Telah lahir para Aulia Namun banyak mata memandang sebelah mata Ajaran Nabi kuat kau jaga Namun banyak orang

Oleh: Zahriyatun Nafiah Langitmu begitu mulia Telah lahir para Aulia Namun banyak mata memandang sebelah mata Ajaran Nabi kuat kau jaga Namun banyak orang

Menanti Oleh Ahmad Mumtaz Senja mewarna di ujung barat angin tenang membisik syahdu bulan suci hampir mendekat menghapus resah di relung kalbu. Rindu berkibar sebagai
Di atas jembatan yang memeluk lautan,
angin berkisah tentang perjalanan.
Madura tersenyum dalam cahaya fajar,
menyambut langkah yang haus pelajaran.

Dalam rihlah suci, langkah penuh berani,
Menuju Madura, tanah sarat seni,
Di sana terhampar, puisi berseri,
Menggugah jiwa, bagaikan cahaya abadi.
Menyusuri jejak, pujangga terpuji,
Oleh Nazar Junio Di rumah teduh, sang penyair bermukim, Menyemai makna dalam bait yang hakim, KH. D. Zawawi Imron, pujangga mulia, Syairnya mengalun, merasuk sukma.
Oleh Nabila Ika Hikmatul Farochah Langit menjadi saksi Tentang bahagiaku hari ini Bertemu yang dikagumi Merajut kisah yang tak pernah terpungkiri Diantara tetes hujan membasahi
Oleh Hasna Azizah Azzahra Bun maaf Maafkan anakmu yang bodoh ini Bodoh karena membencimu tanpa mencoba mengerti maksud baikmu Bun maaf Maafkan anak bodohmu ini
Oleh Muh. Syabilar Rusydi Malam ini Aku sudah tak tertarik pada sang cakrawala yang tiada hias bula, juga bintang Malam ini…. Aku berteduh
Oleh : Ilman Mahbubillah Bagi penulisnya, puisi adalah kepingan hati yang sepakat diletakkan selamanya. Pendengar paling tulus untuk berbagi cerita. Cinta yang terbalas sama besarnya,
Oleh Zid-li Auliyana Luthfillah Ku pandang dirimu kali pertama Wajah datar tak biasa Gengsi adalah utama Tak berkutik sepatah kata Ku ketuk pintu