
Irisan Risau
Karya: Meisya Eva Natasya Diantara senja yang meredup perlahan Risau mengiris tanpa suara ataupun keluhan Tak berdarah, namun nyerinya menetap di ruang kenangan Menunggu

Karya: Meisya Eva Natasya Diantara senja yang meredup perlahan Risau mengiris tanpa suara ataupun keluhan Tak berdarah, namun nyerinya menetap di ruang kenangan Menunggu

Karya: Meisya Eva Natasya Aku menatap cermin di pagi yang bisu Ada wajah yang kukenal tapi terasa baru Matanya menyimpan sisa mimpi semalam Dan

Karya: Meisya Eva Natasya November datang dengan langit yang muram Hujan turun lagi tanpa jeda yang diam Mengangkat aroma tanah yang pelan naik ke

Karya: Meisya Eva Natasya Disudut dapur yang berasap lembut Tersimpan doa dalam wanginya tumisan Sendok kayu menari di atas api Seolah tau arti kasih tanpa

Oleh : Ilman Mahbubillah Jerit ibu menggema di antara reruntuhan, derit cucuran abu menyeruak ketika target utama diledakkan, dilema di bawah endapan debu; mencium nasib

Oleh : Ilman Mahbubillah Dalam waktu pengembaraan di antara gelap dan sebelum cahaya, begitu banyak mimpi yang dilontarkan pada sudut-sudut semesta. Namun kali ini, sebelum

Oleh : Ilman Mahbubillah Aku tak benar-benar tau, sebenarnya apa yang selalu kau panjatkan dalam doamu. Sebab setelah kuratapi kepergianmu, ternyata aku tidaklah kehilangan sesuatu;

Oleh: Ahmad Mumtaaz Malam bukan lagi tempat tidur tapi ruang sunyi penuh ketikan kopi menjadi doa yang pahit namun hangat menyalakan harapan Setiap halaman

Oleh: Nabila Ika Hikmatul Farochah malam apa kau tak rindu akan terang sinar mentari yang benderang awan putih yang mengembang malam desir bayu mu

Oleh: Mahrotul Fithonah Di dalam kepalaku ada ruang yang tak pernah sunyi tempat kenangan duduk menunggu untuk diakui Aku menutup mata tapi suara