
Cerpen: Nona di Balik Senyum
Oleh: Hanifia laila harisi Namaku Zahra. Orang-orang di sekitarku lebih suka memanggilku Zaza. Segalanya bermula dari sebuah pertemuan yang tidak disengaja di sebuah rumah makan

Oleh: Hanifia laila harisi Namaku Zahra. Orang-orang di sekitarku lebih suka memanggilku Zaza. Segalanya bermula dari sebuah pertemuan yang tidak disengaja di sebuah rumah makan

BINTANG UNTUK FOTOKU Oleh Dina Ikmalia Aku tidak pernah membayangkan, sebuah foto sederhana yang kuambil dengan rancangan seadanya bisa terpajang sejajar dengan karya luar biasa

Rumahku Karya: Dwi Putra Arta Sanjaya Dinding kayu, beratap genteng Beralas tanah, penuh makna Rumah yang kecil nan sederhana Barkilap semerbak kenangan Di
By Muflikhah Ulya Di suatu tempat yang tak bisa dijangkau kaki manusia, di antara kabut pegunungan yang hanya disentuh angin subuh dan desir kabar burung,

Api yang Nggak Padam Oleh: Muhammad Ilyas Malam itu, setelah pertarungan panjang di atas kereta, Kyojuro Rengoku berdiri sendirian menghadapi iblis kuat, Akaza, salah satu

Gradasi Warna Senja Oleh: Nabila ika Hikmatul Farochah Sore hari, di salah satu pondok pesantren di Jawa Timur Viyola, Naura, dan Friesa sedang menikmati langit
DUIT BIBIT Oleh: Zid-li Auliyana Luthfillah Covid-19 melanda, hampir seluruh karyawan di PHK, termasuk Galang dan Arya yang termasuk dari bagian PHK karyawan. Kebutuhan

DAPUR SUNYI MENGANDUNG EMOSI Oleh: Zid-li Auliyana Luthfillah Hari itu tiba, hari dimana santri kembali ke pondok. Tahun ajaran baru dimulai, baru pula jadwal piket

RAHASIA DIBALIK SENYUM FIERSA Oleh: Dina Ikmalia Hujan mengguyur Malang, memaksa langkahku lebih cepat. Aku berlari menuju halte di Ketawang, dekat UIN Malang. Sepulang kuliah,

Kenalin nama gua Muhammad Anas Nasution orang siih biasa manggil gue dengan sebutan anas tapi kalo biasanya yang baru kenal dengan gua pasti mereka langsung ngomong “horas” karna itu kata yang identic dengan daerah asal gua ya bener banget “Medan” ya daerah di pulau Sumatra yang sangat gua banggakan banget.