
45 Hari di Raci Wetan
Oleh: Nabila Ika Hikmatul Farochah Aroma bensin dan deru mesin kendaraan mengiringi langkah awal pagi itu. Sekitar pukul sembilan pagi, matahari mulai menyengat, tetapi

Oleh: Nabila Ika Hikmatul Farochah Aroma bensin dan deru mesin kendaraan mengiringi langkah awal pagi itu. Sekitar pukul sembilan pagi, matahari mulai menyengat, tetapi

Oleh Silvia Izzatul Maula Sejak mulai kuliah dan tinggal jauh dari rumah, banyak hal yang berubah. Dulu setiap hari saya selalu ada di rumah.
Jalan yang Tak Pernah Alya Rencanakan Oleh Hanifia Laila Harisi Alya adalah anak yang sejak kecil senang mengamati kehidupan. Ia sering memperhatikan orang-orang di sekitarnya,
Kembali ke Keheningan Oleh Amalia Ayu Putri Roosyidah “Sialan”, Umpat seorang gadis lugu berkacamata. “Apaan woi?” “Nggak apa-apa” Lia, seorang gadis berusia 20 tahun. Saat
Oleh Nafisah Bagaimana aku bisa menyebut diriku seorang manusia? Apakah cukup dengan sekedar hidup mengalir seperti air sambil menunggu akhir yang di tentukan? Lalu, apa
“Pulang Sebentar, Pergi Kembali” Oleh Salsabila farannisa khasan Libur semester adalah waktu yang paling aku tunggu karena biasa pulang ke rumah dan berkumpul bersama orang

ketika saya masih seorang siswa di kota kelahiran saya, saya biasanya diantar menggunakan becak untuk pergi ke sekolah bersama kakak saya yang kebetulan satu sekolah. kami biasanya berangkat jam enam lewat lima belas menit agar sampai disekolah tepat waktu. tahun demi tahun kami berangkat bersama menggunakan becak langganan kami tersebut. kami berhenti menggunakan becak setelah kakak saya beranjak SMA dan saya masih SD kami berangkat bersama menggunakan sepeda motor yang dikendarai oleh kakak saya. mulai saat itulah kakak saya sering melambat-lambatkan untuk berangkat ke sekolah bersama hasilnya saya yang merupakan orang yang sangat rajin ketika SD sangat ingin memarahinya namun tidak bisa karena saya diancam untuk berangkat sendiri jalan kaki jika ingin lekas sampai katanya, disitu aku pun diam tak bersuara dan memilih untuk bersabar karena tidak ada teman saya yang rumahnya berdekatan dengan saya untuk diajak berangkat ke sekolah bersama.

Hari itu, 27 Mei 2026, bertepatan dengan Hari Raya Iduladha. Bagi sebagian orang, hari raya selalu menjadi momen yang paling ditunggu karena menjadi kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga. Ada yang pulang ke kampung halaman, duduk bersama di ruang tamu, menyantap hidangan khas lebaran, atau sekadar berbincang tentang banyak hal yang selama ini tidak sempat diceritakan.

Di tengah gemerlap kota modern, kemajuan teknologi dan fasilitas ternyata tidak berbanding lurus dengan ketenangan jiwa para penghuninya. Karto, seorang lelaki tua penjaga warung kopi di pinggir jalan, setap hari mengamati fenomena sosial ini—mulai dari hilangnya kesabaran, ambisi yang berlebihan, hingga maraknya penyebaran berita bohong. Baginya, fenomena “zaman edan” ini terjadi bukan karena dunia yang berubah, melainkan karena manusia telah melupakan nilai-nilai luhur dan lebih sibuk mengejar pengakuan.Seorang mahasiswa bernama Rian yang sedang merasa lelah dengan tekanan hidup mulai sering datang ke warung Karto untuk bertukar pikiran. Melalui wejangan Karto, Rian tersadar bahwa ia sendiri sering kali ikut terhanyut dalam arus keduniawian tersebut. Kesadaran Rian semakin diperkuat saat ada kasus korupsi pejabat kota; Karto menyentil kemunafikan masyarakat yang gemar menghujat kejahatan orang lain, namun di saat yang sama tetap melakukan kecurangan-kecurangan kecil dalam hidup mereka sendiri karena merasa lebih mudah menilai dosa orang lain daripada memperbaiki diri.

Kadang aku heran, kenapa sekarang banyak orang merasa harus punya someone to talk. Seolah-olah hidup belum lengkap kalau belum punya seseorang yang selalu diajak cerita. Coba deh kata when yah punya pacar atau punya org istimewa coba diganti dgn soon yah aku bisa membanggakan ortuku, semoga ortu ku bisa melihat aku sukses sampai dunia & akhirat.